Biografi
Imam Syafi’i yang dikenal sebagai pendiri madzhab Syafi’iyyah memiliki nama
lengkap Muhammad bin Idris As Syafi’i Al Quraisy. Beliau dilahirkan di daerah Gaza,
Palestina, pada tahun 150 H pada bulan Rajab.
Nasab Imam Syafi’i
Beliau bernama Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin Sa’ib
bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Abdillah bin Abdi Manaf. Kunyah (panggilan kehormatan)
beliau adalah Abu Abdillah (bapaknya Abdullah), dikarenakan salah seorang anak
beliau yang bernama Abdullah. Nasab Imam Syafi’i bertemu dengan nasab
Rasulullah SAW pada Abdu Manaf. Sedangkan Hasyim, kakek Imam Syafi’i, bukanlah
kakek dari Rasulullah SAW.
Diriwayatkan, bahwa ketika beberapa hari setelah ibunda Imam Syafi’i melahirkan,
terdengar kabar dari Baghdad tentang meninggalnya Imam Abu Hanifah. Tatkala
diteliti dengan seksama ternyata hari meninggalnya Imam Abu Hanifah bertepatan
dengan saat lahirnya Imam Syafi’i. Para ulama waktu itu mengisyaratkan bahwa
Muhammad yang baru lahir itu kelak akan mengikuti derajat keilmuan Imam Abu
Hanifah.
Hadits Rasulullah SAW yang mengisyaratkan kedatangan Imam Syafi’i
Para ulama telah menelaah sejumlah hadits dari Rasulullah SAW yang berkenaan
dengan kegembiraan Rasulullah SAW kepada Imam Syafi’i. Hadits dari Ibnu Mas’ud RA,
“Rasulullah SAW telah bersabda, ‘Janganlah kamu mencaci-maki kaum Quraisy! Karena
orang alim Quraisy itu ilmunya akan memenuhi bumi. Ya Allah, Engkau telah
memberi siksaan pada awal Quraisy, maka berilah anugerah pada akhir Quraisy’.”
Hadits dari Ali bin Abi Thalib, beliau berkata, “Rasulullah SAW telah
bersabda, ‘Janganlah kamu mengimami orang Quraisy dan bermakmumlah kamu pada
mereka. Jangan mendahului Quraisy, akan tetapi dahulukanlah mereka. Jangan kamu
mengajari Quraisy, tetapi belajarlah dari mereka! Karena ilmu orang alim
Quraisy akan menyebar ke seluruh dunia’.”
Kesungguhan Imam Syafi’i dalam menuntut ilmu
Meskipun dibesarkan dalam keadaan yatim dan kondisi keluarga yang serba
kekurangan, namun hal itu tidak menjadikan beliau rendah diri, minder, apalagi malas.
Sebaliknya, keadaan itu membuat beliau makin giat menuntut ilmu. Pada umur 9
tahun beliau telah hafal Alquran seluruhnya. Beliau banyak berdiam di Masjid
al-Haram dimana beliau menuntut ilmu pada ulama-ulama dalam berbagai bidang
ilmu. Beliau mencatat ilmu-ilmu yang telah diperolehnya pada kertas-kertas,
kulit dan tulang binatang. Hingga pada suatu hari kamar tempat istirahatnya
penuh oleh kertas, kulit dan tulang. Maka seluruh catatan pada benda-benda itu
dihafal oleh beliau semuanya, lalu setelah itu benda-benda tersebut
dibakarnya.
IQ Imam Syafi’i
Kekuatan hafalan Imam Syafi’i sangat mencengangkan, sampai-sampai
seluruh kitab yang dibaca dapat dihafalnya. Ketika beliau membaca satu kitab,
beliau berusaha menutup halaman yang kiri dengan tangan kanannya karena
khawatir akan melihat halaman yang kiri dan menghafalnya terlebih dahulu
sebelum beliau hafal halaman yang kanan.
Mengenai hal ini, beliau bercerita bahwa beliau pernah bermimpi bertemu Rasulullah
SAW dan Rasulullah SAW berkata kepadanya, “Siapa kamu hai anak muda?” Imam
Syafi’i berkata, “Aku termasuk umatmu, ya Rasulallah,” Rasul berkata, “Mendekatlah
padaku!” Imam Syafi’i lalu mendekat kepada Rasulullah SAW, lalu Rasul mengambil
air liurnya dan meletakkan air liur itu ke dalam mulut dan bibir Imam Syafi’i.
Setelah itu Rasulullah SAW berkata padanya, “Berangkatlah, semoga Allah
memberkahimu!” Setelah mimpi itu beliau tak pernah merasa kesulitan dalam
menghafal ilmu.
Beliau juga telah mencapai kemampuan berbahasa yang sangat indah. Kemampuan
beliau dalam menggubah sya’ir dan ketinggian mutu bahasanya mendapat pengakuan
dan penghargaan yang sangat tinggi dari orang-orang alim yang sezaman dengan
beliau.
Demikian tinggi prestasi-prestasi keilmuan yang telah beliau capai dalam
usia yang masih sangat belia, sehingga guru-gurunya membolehkan beliau untuk
berfatwa di Masjid al-Haram ketika beliau baru mencapai usia 15 tahun.
Dari Harmalah bin Yahya, ia berkata, “Aku telah
mendengar Imam Syafi’i ditanya tentang seorang suami yang berkata kepada
isterinya yang pada saat itu di mulutnya terdapat sebiji kurma, ‘Jika kamu
makan korma itu, maka kamu aku talak (cerai) dan apabila kamu memuntahkannya,
maka kamu juga aku talak (cerai),’ Maka Imam Syafi’i menjawab, ‘Makan separuh
dan muntahkanlah separuhnya.’”
Al-Muzni berkata bahwa ketika Imam Asy-Syafi’i ditanya tentang
burung unta yang menelan mutiara
milik orang lain, lalu pemilik unta berkata, “Aku tidak menyuruhnya untuk menelannya.”
Maka Imam Syafi’i menjawab, “Kalau pemilik mutiara ingin mengambil mutiara itu,
maka sembelih dan keluarkanlah mutiara itu dari perutnya, lalu dia harus
menebus burung unta tersebut dengan harga antara burung itu hidup dan sudah
disembelih.”
Ma’mar bin Syu’aib berkata, “Aku mendengar Amirul Mukminin al-Makmun
bertanya kepada Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i. Al-Makmun berkata, ‘Wahai
Muhammad, apa alasannya Allah menciptakan lalat?’ Mendengar pertanyaan itu,
Imam Asy-Syafi’i terdiam sesaat, lalu dia menjawab, ‘Wahai Amirul Mukminin, lalat
itu diciptakan untuk menghinakan para raja.’
Dengan seketika, al-Makmun tertawa terbahak-bahak. Lalu ia berkata, ‘Wahai Muhammad, aku telah melihat lalat jatuh ketika ada di pipiku.’ Sehingga Imam Asy-Syafi’i pun membalasnya dengan berkata, ‘Benar tuanku. Sebenarnya ketika tuanku menanyakan hal tersebut kepadaku, aku tidak mempunyai jawabannya. Ketika aku melihat lalat itu jatuh tanpa ada suatu sebab dari pipi tuanku tersebut, maka aku baru menemukan jawabannya.’ Kemudian Al-Makmun berkata, ‘Wahai Muhammad, segalanya adalah kekuasaan Allah.’”
Dengan seketika, al-Makmun tertawa terbahak-bahak. Lalu ia berkata, ‘Wahai Muhammad, aku telah melihat lalat jatuh ketika ada di pipiku.’ Sehingga Imam Asy-Syafi’i pun membalasnya dengan berkata, ‘Benar tuanku. Sebenarnya ketika tuanku menanyakan hal tersebut kepadaku, aku tidak mempunyai jawabannya. Ketika aku melihat lalat itu jatuh tanpa ada suatu sebab dari pipi tuanku tersebut, maka aku baru menemukan jawabannya.’ Kemudian Al-Makmun berkata, ‘Wahai Muhammad, segalanya adalah kekuasaan Allah.’”
Ibrahim bin Abi Thalib al-Hafidz berkata, “Aku bertanya kepada Abu
Qudamah as-Sarkhasi tentang Imam Asy-Syafi’i, Imam Ahmad, Abu Ubaid dan Ibnu
Rahawaih, maka dia menjawab, ‘Imam Asy-Syafi’i adalah orang yang paling cerdas di antara mereka semua.’”
Ar-Rabi’ berkata, “Pada suatu hari ketika aku
sedang bersama Imam asy-Syafi’i, seseorang datang dan bertanya, ‘Wahai guru,
apa pendapatmu tentang orang yang sedang bersumpah, ‘Apabila dalam sakuku
terdapat banyak uang dirham lebih dari tiga dirham, maka budakku
merdeka.’ Sedangkan dalam saku orang yang bersumpah tersebut hanya terdapat
uang sebanyak empat dirham saja. Apakah orang itu harus memerdekakan budaknya?’
Maka Imam Syafi’i menjawab, ‘Ia tidak wajib memerdekakan budaknya.’ Ketika
penanya minta penjelasan lebih lanjut, maka Imam Asy-Syafi’i berkata, ‘Orang
tersebut telah mengecualikan sumpahnya dengan banyak dirham, sedangkan
empat dirham itu mempunyai kelebihan satu dari tiga dirham yang disumpahkan.
Satu dirham bukanlah banyak dirham sebagaimana yang dimaksudkan dalam
sumpahnya.’ Mendengar penjelasan ini, maka penanya kemudian berkata, ‘Aku
beriman kepada Zat yang telah memberikan ilmu melalui lisanmu.’”
Kepergian Imam Syafi’i ke Madinah
Imam Syafi’i hidup sezaman dengan Imam Malik bin Anas, seorang ulama besar
pendiri madzhab Maliki. Imam Malik bin Anas juga dikenal sebagai Ahli Hadits.
Beliau menghimpun hadits-hadits nabi dalam kitab beliau yang berjudul Muwaththa’.
Imam Syafi’i pernah meminjam kitab Muwattha’ pada salah seorang penduduk Mekkah
dan menghafalnya dalam waktu singkat. Imam Syafi’i rindu untuk melihat Imam
Malik di Madinah al-Munawwarah dan berharap dapat mengambil manfaat dari ilmu
beliau.
Maka pada suatu hari berangkatlah Imam Syafi’i ke Madinah dengan niat untuk
menuntut ilmu. Dalam perjalanan dari Mekkah menuju Madinah, beliau
mengkhatamkan bacaan Al Qur’an sebanyak 16 kali. Malam satu kali khatam dan
siangnya satu kali. Pada hari ke delapan beliau tiba di Madinah setelah Shalat Ashar.
Beliau shalat di Masjid Nabawi dan berziarah terlebih dahulu ke makam
Rasulullah SAW. Setelah itu baru beliau menuju kediaman Imam Malik bin Anas.
Ketika Imam Syafi’i menghadap Imam Malik, beliau berkata, “Mudah-mudahan
Allah selalu memberimu kebaikan. Aku adalah seorang penuntut ilmu. Kondisi dan
ceritaku begini dan begini…” Mendengar perkataan itu Imam Malik merasa kasihan
dan bertanya kepadanya, “Siapa namamu?” Imam Syafi’i menjawab, “Muhammad.”
Imam Malik berkata kepadanya, “Wahai Muhammad, bertaqwalah kepada Allah dan
hindarilah maksiat! Aku melihat di hatimu ada cahaya. Karena itu janganlah kamu
padamkan cahaya itu dengan maksiat. Sesungguhnya cahaya itu akan menjadikanmu
dibutuhkan oleh manusia.“ Imam Syafi’i menjawab, “Ya.”
Imam Malik lalu berkata, “Kalau besok kamu masih ada, kami akan
mengajarkanmu Kitab Muwaththa’.” Imam Syafi’i berkata, “Wahai Imam, aku telah
membaca Kitab Muwattha’ sampai hafal.” Imam Malik berkata, “Bacalah!” lalu Imam
Syafi’i membaca dan Imam Malik menyimaknya. Ketika Imam Syafi’i khawatir Imam
Malik lelah, maka beliau berhenti. Imam Malik lalu berkata, “Teruskan wahai
anak muda! Aku akan memperbaiki bacaanmu.” Demikianlah, maka aktivitas harian
Imam Syafi’i adalah membaca Kitab Muwaththa’ dibawah bimbingan Imam Malik
sebagai pengarang kitab tersebut.
Beliau
pun selalu hadir di majlis ilmu Imam Malik yang menerangkan tentang
hadits-hadits Rasulullah SAW. Imam Malik memuji kuatnya hafalan dan keluasan
pemahaman Imam Syafi’i terhadap ilmu yang dipelajarinya. Seringkali sehabis
membacakan kitabnya, Imam Malik meminta Imam Syafi’i untuk menyampaikannya
kepada orang lain. Imam Malik juga sering memberikan hadiah kepada sang murid tersebut
sebagai wujud rasa cinta dan perhatian beliau kepadanya.
Demikian juga Imam Syafi’i begitu mencintai gurunya dengan sepenuh hati.
Beliau berkata, “Imam Malik bin Anas adalah guruku. Dari beliau aku belajar dan
tidak ada orang yang aku percaya kecuali Malik bin Anas. Dan aku menjadikan
Malik bin Anas sebagai hujjah (saksi) antara aku dan Allah.”
Kepergian Imam Syafi’i ke Iraq
Pada waktu Imam Syafi’i telah menyelesaikan pelajarannya pada Imam Malik,
beliau mendengar kabar tentang Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan yang sekaligus
adalah murid dan sahabat Imam Abu Hanifah yang sedang berada di Iraq, Kufah.
Beliau ingin sekali bertemu dengan mereka berdua. Maka Imam Syafi’i lantas
memohon izin kepada Imam Malik untuk pergi ke Iraq. Imam Malik memberi tambahan
bekal kepada beliau dan menyewakannya hewan tunggangan menuju kota Kufah.
Di Kufah, begitu berjumpa dengan Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan,
mereka berdua sangat gembira dengan kedatangan Imam Syafi’i. Mereka bertanya
kepada beliau tentang Imam Malik bin Anas. Beliau berkata, “Aku telah datang kepadanya.”
Salah satu dari keduanya berkata, “Apakah kamu melihat kitab Muwaththa’?” Imam
Syafi’i menjawab, “Aku telah menghafal kitab tersebut dalam lubuk hatiku.”
Itu semua telah membuat Muhammad bin Hasan dan Abu Yusuf menaruh hormat
kepada Imam Syafi’i. Muhammad bin Hasan lalu bertanya kepada beliau tentang masalah
thaharah, zakat, jual beli dan masalah lainnya yang dijawab dengan
jawaban yang sangat bagus oleh Imam Syafi’i. Bertambah kagumlah Muhammad bin
Hasan kepada beliau. Kemudian ia mengajak Imam Syafi’i ke rumahnya dan
mengizinkan Imam Syafi’i untuk menyalin kitab apa saja yang dia inginkan yang
ada di perpustakaan miliknya.
Selama di Kufah, Imam Syafi’i menjadi tamu Muhammad bin Hasan. Ketika
beliau telah selesai mempelajari kitab-kitab di perpustakaan Muhammad bin
Hasan, beliau lantas mohon izin untuk meneruskan perjalanan menuju Persia dan
kota-kota disekitarnya.
Kembali ke Madinah
Ketika beliau di kota Romlah, ada serombongan orang Madinah datang. Beliau
bertanya tentang keadaan guru beliau, Imam Malik bin Anas. Mereka menjawab
bahwa Imam Malik dalam keadaan sehat. Imam Syafi’i merasa rindu dan ingin
sekali berjumpa dengan guru yang sangat dicintainya itu. Maka beliau pun
mempersiapkan diri untuk perjalanan menuju Madinah.
Sampai di Madinah, setelah berziarah ke makam Rasulullah SAW, beliau lantas
menuju pengajian Imam Malik. Ketika Imam Malik mengetahui kehadiran Imam
Syafi’i, beliau memanggilnya dan memeluknya dengan penuh kerinduan. Murid-murid
Imam Malik yang lain merasa terharu melihat peristiwa ini. Imam Malik lalu
membawa Imam Syafi’i duduk di sisinya. Beliau berkata, “Ajarilah ini, wahai
Syafi’i.” Setelah menyelesaikan pelajaran itu, Imam Malik mengajak Imam Syafi’i
ke rumahnya.
Imam Syafi’i tinggal selama beberapa tahun di Madinah. Selama itu beliau
senantiasa mendapat perlakuan yang istimewa dan sangat diperhatikan oleh
gurunya. Pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 179 H, Imam Malik bin Anas wafat dan
dimakamkan di pemakaman Baqi’ di kota Madinah. Seluruh penduduk Madinah
tenggelam dalam duka cita karena meninggalnya Sang Imam yang sangat alim dan
mulia ini.
Setelah wafatnya Imam Malik, Imam Syafi’i masih tinggal beberapa lama di
Madinah. Beliau kemudian pergi ke Yaman, menetap dan mengajarkan ilmunya di
sana.
Berita tentang keluasan ilmu beliau segera saja menyebar ke seluruh negeri.
Orang berduyun-duyun datang untuk menyimak pelajaran yang beliau sampaikan.
Ketinggian ilmu dan ma’rifahnya, baik itu dibidang fiqh, hadits, filsafat,
kedokteran, ilmu falak dan lain-lain membuat khalifah Harun al-Rasyid
mengundang beliau dan meminta beliau untuk mengajar di kota Baghdad.
Sejak saat itu beliau dikenal secara luas dan lebih banyak lagi orang yang
datang menuntut ilmu padanya. Pada waktu itulah madzhab beliau mulai dikenal.
Imam Syafii mengajar banyak orang yang kelak sebagian dari mereka menjadi
ulama-ulama yang besar pula. Diantara murid beliau yaitu Imam Ahmad bin Hanbal
yang kelak dikenal sebagai salah seorang Imam Madzhab juga.
Semua orang, baik dari kalangan pejabat maupun rakyat sangat mencintai dan
mengagungkan kedudukan Imam Syafi’i. Demikian pula murid-murid beliau begitu
menaruh hormat padanya. Ini terbukti ketika Imam Ahmad bin Hanbal sakit dan
Imam Syafi’i membesuknya. Waktu beliau sampai di rumahnya, Imam Ahmad bin
Hanbal langsung turun dari tempat tidurnya dan meminta Imam Syafi’i untuk duduk
di tempat itu. Sedangkan Imam Ahmad bin Hanbal duduk di tanah dan sewaktu-waktu
beliau bertanya pada Imam Syafi’i.
Ketika Imam Syafi’i hendak pulang, Imam Ahmad bin Hanbal menaikkan
beliau ke hewan tunggangannya. Lalu Imam Ahmad bin Hanbal naik ke tunggangannya,
padahal beliau dalam kondisi sakit. Imam Ahmad berjalan dengan menerobos jalan-jalan
dan pasar-pasar Baghdad, sampai ia bisa mengantar Imam Syafi’i tiba di
rumahnya.
Pulang ke Mekkah
Setelah beberapa waktu berada di Baghdad, beliau bermaksud pulang ke
Mekkah. Memakan waktu perjalanan beberapa hari, akhirnya beliau sampai di
Mekkah. Waktu itu tahun 181 H. Sebelum masuk kota Mekkah, beliau mendirikan
kemah di luar kota. Penduduk Mekkah keluar untuk menyampaikan salam dan
menyambutnya. Beliau lalu membagi-bagikan seluruh emas dan perak yang beliau
miliki kepada mereka. Hal itu dilakukan untuk melaksanakan wasiat ibunya ketika
beliau datang ke Mekkah. Begitulah, Imam Syafi’i masuk ke kota Mekkah dalam
keadaan tidak membawa apapun, sama seperti ketika beliau keluar dari Mekkah
dalam keadaan tidak membawa benda apapun.
Beliau tinggal di Mekkah selama 17 tahun. Selama berada di sana, beliau
mengajarkan ilmu pada manusia. Madzhab Imam Syafi’i tersebar di antara jamaah
haji dan mereka membawa madzhab tersebut ke tempat asal mereka masing-masing.
Selama 17 tahun tinggal di Mekkah, beliau mendengar wafatnya Abu Yusuf dan
Muhammad bin Hasan yang dahulu pernah ditemuinya di kota Kufah. Setelah itu
wafat pula Harun al-Rasyid.
Setelah sekian lama tinggal di Mekkah, beliau lantas kembali ke kota
Baghdad. Disana beliau melanjutkan kegiatan mengajar selama beberapa waktu.
Setelah itu beliau bermaksud hendak pergi ke Mesir. Ketika penduduk Baghdad
mendengar akan kepergian orang mulia ini, maka mereka keluar untuk mengadakan perpisahan
dengan beliau. Di tengah-tengah penduduk ini ada Imam Ahmad bin Hanbal. Maka
diwaktu itu Imam Syafi’i memegang erat tangan Imam Ahmad bin Hanbal dan berkata,
“Sungguh aku rindu akan bumi Mesir. Selain Mesir adalah bumi yang tandus, demi
Allah aku tidak tahu untuk kemuliaan atau untuk kaya aku pindah ke Mesir. Atau
pindah ke kubur?”
Seakan-akan Imam Syafii merasa akan wafat di Mesir dan kuburannya akan
berada di negeri itu, lalu beliau menangis. Imam Ahmad bin Hanbal dan semua
orang yang menyaksikan perpisahan itu menangis semua. Imam Ahmad bin Hanbal
pulang sambil bercucuran air mata dan berkata pada para penduduk Baghdad, “Sungguh
ilmu fiqih telah tertutup, lalu Allah membukakan ilmu itu dengan kedatangan
Imam Syafi’i.”
Menetap di Mesir
Di negeri Mesir segera saja penduduknya jatuh hati pada Imam Syafi’i. Para
ulama negeri itu juga memuliakannya dan meminta beliau untuk mengajar di masjid
Amr bin Ash. Beliau mengajar sehabis subuh sampai zhuhur. Imam Syafi’i adalah
orang pertama yang mengajar ilmu hadits di Mesir sampai zhuhur. Setelah itu
beliau melanjutkan pelajaran di rumahnya.
Para ulama dan orang-orang jenius terpelajar lainnya datang menyimak
pelajaran yang beliau sampaikan, baik di masjid maupun di rumah. Di antara
orang-orang yang belajar pada beliau yang kelak menjadi ulama terkenal adalah
Muhammad bin Abdullah bin Hakam, Abu Ibrahim bin Ismail bin Yahya Al-Muzani,
Abu Yaqub Yusuf bin Yahya al-Buwaithi, Rabi’ al-Jizi dan lain sebagainya.
Ketika di Mesir ini pula Imam Syafi’i banyak menulis kitab yang berisi
madzhab beliau. Di antara kitabnya adalah Al-Umm, Imla al-Shaghir, Jizyah, ar-Risalah
dan lain sebagainya.
Sebagian dari akhlak Imam Syafi’i
Imam Syafi’i adalah seorang yang taqwa, zuhud dan wara’.
Beliau juga sangat santun dalam memberi peringatan kepada orang yang melakukan
kesalahan. Hatinya sangat lembut dan dermawan terhadap harta.
Baihaqi meriwayatkan dari Hasan bin Habib. Dia berkata, “Aku melihat Imam
Syafi’i menunggang kuda melewati pasar sepatu. Tiba-tiba cambuknya jatuh dan
mengenai salah seorang pedagang sepatu. Lalu pedagang sepatu itu mengusap
cambuk untuk membersihkannya dan memberikan cambuk itu pada beliau. Imam
Syafi’i lalu menyuruh budaknya untuk memberikan uangnya pada pedagang itu.”
Tiada hari yang dilewati beliau tanpa bershadaqah. Siang dan malam beliau
selalu bershadaqah, apalagi di bulan Ramadhan. Beliau juga sering mengunjungi
fakir miskin dan menjamin kebutuhan-kebutuhan mereka. Untuk menafkahi
keluarganya beliau berdagang.
Imam Syafi’i sangat baik dalam memperlakukan kerabat-kerabatnya. Beliau
menghormati mereka dan tidak menyombongkan dirinya. Beliau menghormati orang
sesuai posisinya. Imam Syafi’i pernah berkata, “Paling zhalimnya orang adalah
ia yang menjauhi kerabatnya, tidak mau tahu terhadap mereka, meremehkan dan
sombong pada orang yang memiliki keutamaan.”
Beliau juga senantiasa memaafkan orang yang berbuat kesalahan kepadanya.
Beliau membalas kejahatan dengan kebaikan dan tidak pernah menyimpan dendam
kepada seseorang.
Pujian Ahmad bin Hanbal kepada Imam Syafi’i
Sewaktu di Baghdad, Imam Syafi’i selalu bersama Imam Ahmad bin Hanbal.
Demikian cintanya pada Imam Syafi’i, sehingga putra-putri Imam Ahmad merasa
penasaran kepada bapaknya itu. Putri Imam Ahmad memintanya untuk mengundang
Imam Syafii bermalam di rumah untuk mengetahui perilaku beliau dari dekat. Imam
Ahmad bin Hanbal lalu menemui Imam Syafi’i dan menyampaikan undangan itu.
Ketika Imam Syafi’i telah berada di rumah Imam Ahmad, putrinya lalu
membawakan hidangan. Imam Syafi’i memakan banyak sekali makanan itu dengan
sangat lahap. Ini membuat heran putri Imam Ahmad bin Hanbal.
Setelah makan malam, Imam Ahmad bin Hanbal mempersilakan Imam Syafi’i untuk
beristirahat di kamar yang telah disediakan. Putri Imam Ahmad melihat Imam
Syafi’i langsung merebahkan tubuhnya dan tidak bangun untuk melaksanakan shalat
malam. Pada waktu subuh tiba beliau langsung berangkat ke masjid tanpa berwudhu
terlebih dulu.
Sehabis shalat subuh, putri Imam Ahmad bin Hanbal langsung protes kepada ayahnya
tentang perbuatan Imam Syafi’i, yang menurutnya kurang mencerminkan
keilmuannya. Imam Ahmad yang menolak untuk menyalahkan Imam Syafi’i, langsung
menanyakan hal itu kepada Imam Syafi’i.
Mengenai hidangan yang dimakannya dengan sangat lahap, beliau berkata, “Ahmad,
memang benar aku makan banyak dan itu ada alasannya. Aku tahu hidangan itu
halal dan aku tahu kau adalah orang yang pemurah. Maka aku makan
sebanyak-banyaknya. Sebab makanan yang halal itu banyak berkahnya dan makanan
dari orang yang pemurah adalah obat. Sedangkan malam ini adalah malam yang
paling berkah bagiku.” “Kenapa begitu, wahai guru?” Tanya Imam Ahmad. “Begitu
aku meletakkan kepala di atas bantal, seolah Kitabullah dan Sunnah Rasulullah
SAW nampak digelar di hadapanku. Aku menelaah dan telah menyelesaikan seratus
masalah yang bermanfaat bagi orang Islam, karena itu aku tak sempat shalat
malam.”
Imam Ahmad bin Hanbal berkata pada putrinya, “Inilah yang dilakukan guruku
pada malam ini. Sungguh, berbaringnya beliau lebih utama dari semua yang aku
kerjakan pada waktu tidak tidur.”
Imam Syafi’i melanjutkan, “Aku shalat subuh tanpa wudlu sebab aku masih
suci. Aku tidak memejamkan mata sedikit pun. Wudluku masih terjaga sejak isya,
sehingga aku bisa shalat subuh tanpa berwudlu lagi.”
Di lain kesempatan, Imam Ahmad bin Hanbal pernah berkata, “Aku tidak pernah
shalat sejak 40 tahun silam kecuali dalam shalatku itu aku berdoa untuk Imam
Syafi’i.” Abdullah, putranya, lantas bertanya, “Wahai ayahku, seperti apakah
Imam Syafi’i, sehingga ayah selalu berdoa untuknya?” Imam Ahmad bin Hanbal
menjawab, “Wahai anakku, Imam Syafi’i bagaikan matahari bagi dunia dan seperti
kesehatan bagi tubuh. Lihatlah anakku, betapa pentingnya dua hal itu!”
Abdul Malik bin Abdul Hamid al-Maimuni berkata, “Aku berada di sisi Ahmad
bin Hanbal dan beliau selalu menyebut Imam Syafi’i. Aku selalu melihat beliau
mengagungkan Imam Syafi’i.”
Wafatnya Imam Syafi’i
Beliau wafat pada malam jum’at, akhir bulan Rajab tahun 204 H, setelah
mengalami sakit selama beberapa waktu. Setelah isya, ruh beliau yang suci
kembali ke Rahmatullah di pangkuan murid beliau, yaitu Rabi’
al-Jizi. Jenazah beliau dimakamkan dengan iringan tangis dan rintih duka
cita dari segenap penduduk Mesir.
Sumber: Dinukil
dari kitab Min
A’lamis Salaf karya, Syaikh Ahmad Farid, edisi indonesia: 60 Bigrafi
Sumber:
Dinukil dari kitab Min A’lamis Salaf karya, Syaikh Ahmad Farid, edisi
indonesia: 60
Bigrafi



0 komentar:
Posting Komentar