Awal mula Menuntut Ilmu
Ilmu yang pertama kali dikuasainya adalah Al Qur'an hingga ia hafal pada
usia 15 tahun, ia juga mahir baca-tulis dengan sempurna hingga dikenal sebagai
orang yang terindah tulisannya. Lalu, ia mulai konsentrasi belajar ilmu hadits
di awal umur 15 tahun itu pula. Ia telah mempelajari Hadits sejak kecil dan
untuk mempelajari Hadits ini ia pernah pindah atau merantau ke Syam (Syiria), Hijaz
(Saudi Arabia), Yaman dan negara-negara lainnya sehingga ia akhirnya menjadi tokoh
ulama yang bertakwa, saleh dan zuhud. Abu Zur'ah
mengatakan bahwa kitabnya yang sebanyak 12 buah sudah dihafalnya di luar
kepala. Ia menghafal sampai sejuta hadits.
Imam Syafi'i mengatakan tetang diri Imam Ahmad sebagai
berikut, “Setelah saya keluar dari Baghdad, tidak ada orang yang saya
tinggalkan di sana yang lebih terpuji, lebih shaleh dan yang lebih berilmu
daripada Ahmad bin Hambal.”
Abdur Rozzaq bin Hammam yang juga salah seorang guru beliau
pernah berkata, “Saya tidak pernah melihat orang se-faqih dan se-wara' Ahmad
Bin Hanbal.”
Keadaan fisik
Muhammad bin ‘Abbas an-Nahwi bercerita, “Saya pernah melihat Imam Ahmad bin
Hambal, ternyata badan beliau tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu pendek,
wajahnya tampan, di jenggotnya masih ada yang hitam. Ia senang berpakaian
tebal, berwarna putih dan bersorban serta memakai kain.” Yang lain mengatakan,
“Kulitnya berwarna coklat (sawo matang).”
Keluarga
Beliau menikah pada umur 40 tahun dan mendapatkan keberkahan yang melimpah.
Dari istri-istrinya, ia memiliki anak-anak yang shalih, yang mewarisi ilmunya,
seperti Abdullah dan Shalih. Bahkan keduanya sangat banyak meriwayatkan ilmu
dari bapaknya.
Kecerdasan
Putranya yang bernama Shalih mengatakan, “Ayahku pernah bercerita, ‘Husyaim
meninggal dunia saat saya berusia dua puluh tahun, kala itu saya telah hafal
apa yang kudengar darinya.’” Abdullah, putranya yang lain mengatakan, “Ayahku
pernah menyuruhku, ‘Ambillah kitab mushannaf Waki’ mana saja yang kamu
kehendaki, lalu tanyakanlah yang kamu mau tentang matan nanti kuberitahu
sanadnya, atau sebaliknya kamu tanya tentang sanadnya nanti kuberitahu matannya!’”
Abu Zur’ah pernah ditanya, “Wahai Abu Zur’ah, siapakah yang lebih kuat
hafalannya, anda atau Imam Ahmad bin Hambal?” Beliau menjawab, “Ahmad.” Ia
masih ditanya, “Bagaimana Anda tahu?” Beliau menjawab, “Saya mendapati di
bagian depan kitabnya tidak tercantum nama-nama perawi, karena beliau hafal
nama-nama perawi tersebut, sedangkan saya tidak mampu melakukannya.” Abu Zur’ah
juga mengatakan, “Imam Ahmad bin Hambal hafal satu juta hadits.”
Pujian Ulama
Abu Ja’far mengatakan, “Ahmad bin Hambal adalah manusia yang sangat pemalu,
sangat mulia dan sangat baik pergaulannya serta adabnya, banyak berfikir, tidak
terdengar darinya kecuali mudzakarah hadits dan menyebut orang-orang shalih
dengan penuh hormat dan tenang serta dengan ungkapan yang indah. Bila berjumpa
dengan manusia, maka ia sangat ceria dan menghadapkan wajahnya kepadanya. Ia
sangat rendah hati terhadap guru-gurunya serta menghormatinya.”
Imam asy-Syafi’i berkata, “Ahmad bin Hambal adalah imam dalam delapan hal:
imam dalam hadits, imam dalam fiqih, imam dalam bahasa, imam dalam Alqur’an,
imam dalam kefaqiran, imam dalam kezuhudan, imam dalam wara’ dan imam dalam Assunnah.”
Ibrahim al-Harbi memujinya, “Saya melihat Abu Abdillah Ahmad bin Hambal
seolah Allah gabungkan padanya ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang
belakangan dari berbagai disiplin ilmu.”
Kezuhudannya
Beliau memakai peci yang dijahit sendiri. Kadang beliau keluar ke tempat
kerja sambil membawa kampak untuk bekerja dengan tangannya. Kadang juga beliau
pergi ke warung membeli seikat kayu bakar dan barang lainnya, lalu membawa
dengan tangannya sendiri. Al-Maimuni pernah berujar, “Rumah Abu Abdillah Ahmad
bin Hambal sempit dan kecil.”
Wara’ dan menjaga harga diri
Abu Isma’il at-Tirmidzi mengatakan, “Datang seorang lelaki membawa uang
sebanyak sepuluh ribu dirham untuk beliau, namun beliau menolaknya.” Ada juga
yang mengatakan, “Ada seseorang memberikan lima ratus dinar kepada Imam Ahmad,
namun beliau tidak mau menerimanya. Juga pernah ada yang memberi tiga ribu
dinar, namun beliau juga tidak mau menerimanya.”
Tawadhu’ dengan kebaikannya
Yahya bin Ma’in berkata, “Saya tidak pernah melihat orang yang seperti Imam
Ahmad bin Hambal. Saya berteman dengannya selama lima puluh tahun dan tidak
pernah menjumpai dia membanggakan sedikitpun kebaikan yang ada padanya kepada
kami.”
Beliau (Imam Ahmad) mengatakan, “Saya ingin bersembunyi di lembah Makkah
hingga saya tidak dikenal, saya diuji dengan popularitas.”
Al-Marrudzi berkata, “Saya belum pernah melihat orang fakir di suatu majlis
yang lebih mulia kecuali di majlis Imam Ahmad. Beliau perhatian terhadap orang
fakir dan agak kurang perhatiannya terhadap ahli dunia (orang kaya). Beliau
bijak dan tidak tergesa-gesa terhadap orang fakir. Ia sangat rendah hati,
begitu tinggi ketenangannya dan sangat memukau kharismanya.”
Beliau pernah bermuka masam karena ada seseorang yang memujinya dengan
mengatakan, “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan atas jasamu kepada Islam?”
Lalu beliau mengatakan, “Jangan begitu, tetapi katakanlah, ‘Semoga Allah
membalas kebaikan terhadap Islam atas jasanya kepadaku, siapa saya dan apa jasa
saya?’”
Sabar dalam menuntut ilmu
Tatkala beliau pulang dari tempat Abdur Razzaq yang berada di Yaman, ada
seseorang yang melihatnya di Makkah dalam keadaan sangat letih dan capai. Lalu
ia mengajak bicara, maka Imam Ahmad mengatakan, “Ini lebih ringan dibandingkan
faidah yang saya dapatkan dari Abdirrazzak.”
Hati-hati dalam berfatwa
Zakariya bin Yahya pernah bertanya kepada beliau, “Berapa hadits yang harus
dikuasai oleh seseorang hingga bisa menjadi mufti, apakah cukup seratus ribu
hadits?” Beliau menjawab, “Tidak cukup,” Hingga akhirnya ia berkata, “Apakah cukup
lima ratus ribu hadits?” Beliau menjawab, “Saya harap demikian.”
Kelurusan aqidahnya sebagai
standar kebenaran
Ahmad bin Ibrahim ad-Dauruqi mengatakan, “Siapa saja yang kamu ketahui telah
mencela Imam Ahmad, maka ragukanlah agamanya.” Sufyan bin Waki’ juga berkata,
“Ahmad di sisi kami adalah cobaan, barangsiapa mencela beliau maka dia adalah
orang fasik.”
Masa Fitnah
Pemahaman Jahmiyyah belum berani terang-terangan pada masa Khalifah al-Mahdi,
ar-Rasyid dan al-Amin. Bahkan ar-Rasyid pernah mengancam akan membunuh Bisyr
bin Ghiyats al-Marisi yang mengatakan bahwa Alqur’an adalah makhluk. Namun dia
terus bersembunyi pada masa Khalifah ar-Rasyid. Setelah beliau wafat, barulah dia
menampakkan kebid’ahannya dan menyeru manusia kepada kesesatan ini.
Di masa Khalifah al-Ma’mun, orang-orang jahmiyyah berhasil menjadikan paham
jahmiyyah sebagai ajaran resmi negara, di antara ajarannya adalah menyatakan
bahwa Alqur’an adalah makhluk. Lalu penguasa pun memaksa seluruh rakyatnya
untuk mengatakan bahwa Alqur’an makhluk, terutama para ulamanya. Barang siapa
mau menuruti dan tunduk kepada ajaran ini, maka dia selamat dari siksaan dan
penderitaan. Bagi yang menolak dan bersikukuh dengan mengatakan bahwa Alqur’an adalah
Kalamullah, bukan makhluk, maka dia akan mencicipi cambukan dan pukulan serta
kurungan penjara.
Karena beratnya siksaan dan parahnya penderitaan, banyak ulama yang tidak
kuat menahannya yang akhirnya mengucapkan apa yang dituntut oleh penguasa dzalim,
meski cuma dalam lisan saja.
Banyak yang membisiki Imam Ahmad bin Hambal untuk menyembunyikan
keyakinannya agar selamat dari segala siksaan dan penderitaan. Namun beliau
menjawab, “Bagaimana kalian menyikapi hadits, ‘Sesungguhnya orang-orang sebelum
Khabbab ada yang digergaji kepalanya, namun tidak membuatnya berpaling dari
agamanya.’” (HR. Bukhari 12/281). Lalu beliau menegaskan, “Saya tidak peduli
dengan kurungan penjara, penjara dan rumahku sama saja.”
Ketegaran dan ketabahan beliau dalam menghadapi cobaan yang menderanya
digambarkan oleh Ishaq bin Ibrahim, “Saya belum pernah melihat seseorang yang
masuk ke tempat penguasa melebihi tegarnya Imam Ahmad bin Hambal. Di mata
penguasa, kami saat itu hanya seperti lalat.”
Di saat menghadapi terpaan fitnah yang sangat dahsyat dan deraan siksaan
yang luar biasa, beliau masih berpikir jernih dan tidak emosi, tetap mengambil
pelajaran meski datang dari orang yang lebih rendah ilmunya. Ia mengatakan,
“Semenjak terjadinya fitnah, saya belum pernah mendengar suatu kalimat yang
lebih mengesankan dari kalimat yang diucapkan oleh seorang Arab Badui kepadaku,
‘Wahai Ahmad, jika anda terbunuh karena kebenaran maka anda mati syahid. Dan
jika anda selamat maka anda hidup mulia.’ Maka hatiku bertambah kuat.”
Ahli hadits sekaligus juga Ahli
Fiqih
Ibnu ‘Aqil berkata, “Saya pernah mendengar hal yang sangat aneh dari orang-orang
bodoh yang mengatakan, ‘Ahmad bukan ahli fiqih, tetapi hanya ahli hadits saja.’
Ini adalah puncaknya kebodohan, karena Imam Ahmad memiliki pendapat-pendapat
yang didasarkan pada hadits yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia,
bahkan beliau lebih unggul dari seniornya.”
Bahkan Imam adz-Dzahabi berkata, “Demi Allah, beliau dalam Ilmu Fiqih sampai
derajat Laits, Malik dan asy-Syafi’i serta Abu Yusuf. Dalam zuhud dan wara’
beliau menyamai Fudhail dan Ibrahim bin Adham. Dalam hafalan beliau setara
dengan Syu’bah, Yahya al-Qaththan dan Ibnul Madini. Tetapi orang bodoh tidak
mengetahui kadar dirinya. Bagaimana mungkin dia mengetahui kadar orang lain!”
Guru
Imam Ahmad bin Hambal berguru kepada banyak ulama, jumlahnya lebih dari dua
ratus delapan puluh yang tersebar di berbagai negeri, seperti di Makkah, Kufah,
Bashrah, Baghdad, Yaman dan negeri lainnya. Di antara mereka adalah:
- Ismail bin Ja’far
- Abbad bin Abbad al-Ataky
- Umari bin Abdillah bin Khalid
- Husyaim bin Basyir bin Qasim bin Dinar as-Sulami
- Imam Syafi'i
- Waki’ bin Jarrah
- Ismail bin Ulayyah
- Sufyan bin ‘Uyainah
- Abdur Razzaq
- Ibrahim bin Ma’qil
Murid-murid Ahmad bin Hanbal
Mayoritas ahli hadits pernah belajar kepada Imam Ahmad bin Hambal. Bahkan ulama
yang pernah menjadi gurunya pun pernah belajar kepadanya juga. Yang paling
menonjol adalah:
- Imam Bukhari
- Muslim
- Abu Daud
- An-Nasa'i
- Tirmidzi
- Ibnu Majah
- Imam asy-Syafi'i
- Putranya, Shalih bin Imam Ahmad bin Hambal
- Putranya, Abdullah bin Imam Ahmad bin Hambal
- Keponakannya, Hambal bin Ishaq
Wafatnya Ahmad bin Hanbal
Setelah sakit sembilan hari, beliau Rahimahullah menghembuskan napas
terakhirnya di pagi hari Jum’at, bertepatan dengan tanggal dua belas Rabi’ul
Awwal 241 H, pada usia 77 tahun. Jenazah beliau dihadiri 800.000 pelayat lelaki
dan 60.000 pelayat perempuan.
Karya-Karya Imam Ahmad bin Hanbal
rahimahullah
- Kitab Al Musnad, karya yang paling menakjubkan karena kitab ini memuat lebih dari 27.000 hadits.
- Kitab at-Tafsir, namun Adz-Dzahabi mengatakan, “Kitab ini telah hilang.”
- Kitab an-Nasikh wa al-Mansukh
- Kitab at-Tarikh
- Kitab Hadits Syu'bah
- Kitab al-Muqaddam wa al-Mu'akkhar fi al-Qur`an
- Kitab Jawabah al-Qur`an
- Kitab al-Manasik al-Kabir
- Kitab al-Manasik as-Saghir
Menurut Imam Nadim, kitab berikut
ini juga merupakan tulisan Imam Ahmad bin Hanbal
- Kitab al-'Ilal
- Kitab al-Manasik
- Kitab az-Zuhd
- Kitab al-Iman
- Kitab al-Masa'il
- Kitab al-Asyribah
- Kitab al-Fadha'il
- Kitab Tha'ah ar-Rasul
- Kitab al-Fara'idh
- Kitab ar-Radd ala al-Jahmiyyah
Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Ahmad_bin_Hanbal#Keluarga



0 komentar:
Posting Komentar