Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Senin, 09 Desember 2013

Imam Ahmad Bin Hambal


Awal mula Menuntut Ilmu
Ilmu yang pertama kali dikuasainya adalah Al Qur'an hingga ia hafal pada usia 15 tahun, ia juga mahir baca-tulis dengan sempurna hingga dikenal sebagai orang yang terindah tulisannya. Lalu, ia mulai konsentrasi belajar ilmu hadits di awal umur 15 tahun itu pula. Ia telah mempelajari Hadits sejak kecil dan untuk mempelajari Hadits ini ia pernah pindah atau merantau ke Syam (Syiria), Hijaz (Saudi Arabia), Yaman dan negara-negara lainnya sehingga ia akhirnya menjadi tokoh ulama yang bertakwa, saleh dan zuhud. Abu Zur'ah mengatakan bahwa kitabnya yang sebanyak 12 buah sudah dihafalnya di luar kepala. Ia menghafal sampai sejuta hadits.
Imam Syafi'i mengatakan tetang diri Imam Ahmad sebagai berikut, “Setelah saya keluar dari Baghdad, tidak ada orang yang saya tinggalkan di sana yang lebih terpuji, lebih shaleh dan yang lebih berilmu daripada Ahmad bin Hambal.”
Abdur Rozzaq bin Hammam yang juga salah seorang guru beliau pernah berkata, “Saya tidak pernah melihat orang se-faqih dan se-wara' Ahmad Bin Hanbal.”
Keadaan fisik
Muhammad bin ‘Abbas an-Nahwi bercerita, “Saya pernah melihat Imam Ahmad bin Hambal, ternyata badan beliau tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu pendek, wajahnya tampan, di jenggotnya masih ada yang hitam. Ia senang berpakaian tebal, berwarna putih dan bersorban serta memakai kain.” Yang lain mengatakan, “Kulitnya berwarna coklat (sawo matang).”
Keluarga
Beliau menikah pada umur 40 tahun dan mendapatkan keberkahan yang melimpah. Dari istri-istrinya, ia memiliki anak-anak yang shalih, yang mewarisi ilmunya, seperti Abdullah dan Shalih. Bahkan keduanya sangat banyak meriwayatkan ilmu dari bapaknya.
Kecerdasan
Putranya yang bernama Shalih mengatakan, “Ayahku pernah bercerita, ‘Husyaim meninggal dunia saat saya berusia dua puluh tahun, kala itu saya telah hafal apa yang kudengar darinya.’” Abdullah, putranya yang lain mengatakan, “Ayahku pernah menyuruhku, ‘Ambillah kitab mushannaf Waki’ mana saja yang kamu kehendaki, lalu tanyakanlah yang kamu mau tentang matan nanti kuberitahu sanadnya, atau sebaliknya kamu tanya tentang sanadnya nanti kuberitahu matannya!’”
Abu Zur’ah pernah ditanya, “Wahai Abu Zur’ah, siapakah yang lebih kuat hafalannya, anda atau Imam Ahmad bin Hambal?” Beliau menjawab, “Ahmad.” Ia masih ditanya, “Bagaimana Anda tahu?” Beliau menjawab, “Saya mendapati di bagian depan kitabnya tidak tercantum nama-nama perawi, karena beliau hafal nama-nama perawi tersebut, sedangkan saya tidak mampu melakukannya.” Abu Zur’ah juga mengatakan, “Imam Ahmad bin Hambal hafal satu juta hadits.”
Pujian Ulama
Abu Ja’far mengatakan, “Ahmad bin Hambal adalah manusia yang sangat pemalu, sangat mulia dan sangat baik pergaulannya serta adabnya, banyak berfikir, tidak terdengar darinya kecuali mudzakarah hadits dan menyebut orang-orang shalih dengan penuh hormat dan tenang serta dengan ungkapan yang indah. Bila berjumpa dengan manusia, maka ia sangat ceria dan menghadapkan wajahnya kepadanya. Ia sangat rendah hati terhadap guru-gurunya serta menghormatinya.”
Imam asy-Syafi’i berkata, “Ahmad bin Hambal adalah imam dalam delapan hal: imam dalam hadits, imam dalam fiqih, imam dalam bahasa, imam dalam Alqur’an, imam dalam kefaqiran, imam dalam kezuhudan, imam dalam wara’ dan imam dalam Assunnah.”
Ibrahim al-Harbi memujinya, “Saya melihat Abu Abdillah Ahmad bin Hambal seolah Allah gabungkan padanya ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang belakangan dari berbagai disiplin ilmu.”
Kezuhudannya
Beliau memakai peci yang dijahit sendiri. Kadang beliau keluar ke tempat kerja sambil membawa kampak untuk bekerja dengan tangannya. Kadang juga beliau pergi ke warung membeli seikat kayu bakar dan barang lainnya, lalu membawa dengan tangannya sendiri. Al-Maimuni pernah berujar, “Rumah Abu Abdillah Ahmad bin Hambal sempit dan kecil.”
Wara’ dan menjaga harga diri
Abu Isma’il at-Tirmidzi mengatakan, “Datang seorang lelaki membawa uang sebanyak sepuluh ribu dirham untuk beliau, namun beliau menolaknya.” Ada juga yang mengatakan, “Ada seseorang memberikan lima ratus dinar kepada Imam Ahmad, namun beliau tidak mau menerimanya. Juga pernah ada yang memberi tiga ribu dinar, namun beliau juga tidak mau menerimanya.”
Tawadhu’ dengan kebaikannya
Yahya bin Ma’in berkata, “Saya tidak pernah melihat orang yang seperti Imam Ahmad bin Hambal. Saya berteman dengannya selama lima puluh tahun dan tidak pernah menjumpai dia membanggakan sedikitpun kebaikan yang ada padanya kepada kami.”
Beliau (Imam Ahmad) mengatakan, “Saya ingin bersembunyi di lembah Makkah hingga saya tidak dikenal, saya diuji dengan popularitas.”
Al-Marrudzi berkata, “Saya belum pernah melihat orang fakir di suatu majlis yang lebih mulia kecuali di majlis Imam Ahmad. Beliau perhatian terhadap orang fakir dan agak kurang perhatiannya terhadap ahli dunia (orang kaya). Beliau bijak dan tidak tergesa-gesa terhadap orang fakir. Ia sangat rendah hati, begitu tinggi ketenangannya dan sangat memukau kharismanya.”
Beliau pernah bermuka masam karena ada seseorang yang memujinya dengan mengatakan, “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan atas jasamu kepada Islam?” Lalu beliau mengatakan, “Jangan begitu, tetapi katakanlah, ‘Semoga Allah membalas kebaikan terhadap Islam atas jasanya kepadaku, siapa saya dan apa jasa saya?’”
Sabar dalam menuntut ilmu
Tatkala beliau pulang dari tempat Abdur Razzaq yang berada di Yaman, ada seseorang yang melihatnya di Makkah dalam keadaan sangat letih dan capai. Lalu ia mengajak bicara, maka Imam Ahmad mengatakan, “Ini lebih ringan dibandingkan faidah yang saya dapatkan dari Abdirrazzak.”
Hati-hati dalam berfatwa
Zakariya bin Yahya pernah bertanya kepada beliau, “Berapa hadits yang harus dikuasai oleh seseorang hingga bisa menjadi mufti, apakah cukup seratus ribu hadits?” Beliau menjawab, “Tidak cukup,” Hingga akhirnya ia berkata, “Apakah cukup lima ratus ribu hadits?” Beliau menjawab, “Saya harap demikian.”
Kelurusan aqidahnya sebagai standar kebenaran
Ahmad bin Ibrahim ad-Dauruqi mengatakan, “Siapa saja yang kamu ketahui telah mencela Imam Ahmad, maka ragukanlah agamanya.” Sufyan bin Waki’ juga berkata, “Ahmad di sisi kami adalah cobaan, barangsiapa mencela beliau maka dia adalah orang fasik.”
Masa Fitnah
Pemahaman Jahmiyyah belum berani terang-terangan pada masa Khalifah al-Mahdi, ar-Rasyid dan al-Amin. Bahkan ar-Rasyid pernah mengancam akan membunuh Bisyr bin Ghiyats al-Marisi yang mengatakan bahwa Alqur’an adalah makhluk. Namun dia terus bersembunyi pada masa Khalifah ar-Rasyid. Setelah beliau wafat, barulah dia menampakkan kebid’ahannya dan menyeru manusia kepada kesesatan ini.
Di masa Khalifah al-Ma’mun, orang-orang jahmiyyah berhasil menjadikan paham jahmiyyah sebagai ajaran resmi negara, di antara ajarannya adalah menyatakan bahwa Alqur’an adalah makhluk. Lalu penguasa pun memaksa seluruh rakyatnya untuk mengatakan bahwa Alqur’an makhluk, terutama para ulamanya. Barang siapa mau menuruti dan tunduk kepada ajaran ini, maka dia selamat dari siksaan dan penderitaan. Bagi yang menolak dan bersikukuh dengan mengatakan bahwa Alqur’an adalah Kalamullah, bukan makhluk, maka dia akan mencicipi cambukan dan pukulan serta kurungan penjara.
Karena beratnya siksaan dan parahnya penderitaan, banyak ulama yang tidak kuat menahannya yang akhirnya mengucapkan apa yang dituntut oleh penguasa dzalim, meski cuma dalam lisan saja.
Banyak yang membisiki Imam Ahmad bin Hambal untuk menyembunyikan keyakinannya agar selamat dari segala siksaan dan penderitaan. Namun beliau menjawab, “Bagaimana kalian menyikapi hadits, ‘Sesungguhnya orang-orang sebelum Khabbab ada yang digergaji kepalanya, namun tidak membuatnya berpaling dari agamanya.’” (HR. Bukhari 12/281). Lalu beliau menegaskan, “Saya tidak peduli dengan kurungan penjara, penjara dan rumahku sama saja.”
Ketegaran dan ketabahan beliau dalam menghadapi cobaan yang menderanya digambarkan oleh Ishaq bin Ibrahim, “Saya belum pernah melihat seseorang yang masuk ke tempat penguasa melebihi tegarnya Imam Ahmad bin Hambal. Di mata penguasa, kami saat itu hanya seperti lalat.”
Di saat menghadapi terpaan fitnah yang sangat dahsyat dan deraan siksaan yang luar biasa, beliau masih berpikir jernih dan tidak emosi, tetap mengambil pelajaran meski datang dari orang yang lebih rendah ilmunya. Ia mengatakan, “Semenjak terjadinya fitnah, saya belum pernah mendengar suatu kalimat yang lebih mengesankan dari kalimat yang diucapkan oleh seorang Arab Badui kepadaku, ‘Wahai Ahmad, jika anda terbunuh karena kebenaran maka anda mati syahid. Dan jika anda selamat maka anda hidup mulia.’ Maka hatiku bertambah kuat.”
Ahli hadits sekaligus juga Ahli Fiqih
Ibnu ‘Aqil berkata, “Saya pernah mendengar hal yang sangat aneh dari orang-orang bodoh yang mengatakan, ‘Ahmad bukan ahli fiqih, tetapi hanya ahli hadits saja.’ Ini adalah puncaknya kebodohan, karena Imam Ahmad memiliki pendapat-pendapat yang didasarkan pada hadits yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia, bahkan beliau lebih unggul dari seniornya.”
Bahkan Imam adz-Dzahabi berkata, “Demi Allah, beliau dalam Ilmu Fiqih sampai derajat Laits, Malik dan asy-Syafi’i serta Abu Yusuf. Dalam zuhud dan wara’ beliau menyamai Fudhail dan Ibrahim bin Adham. Dalam hafalan beliau setara dengan Syu’bah, Yahya al-Qaththan dan Ibnul Madini. Tetapi orang bodoh tidak mengetahui kadar dirinya. Bagaimana mungkin dia mengetahui kadar orang lain!”
Guru
Imam Ahmad bin Hambal berguru kepada banyak ulama, jumlahnya lebih dari dua ratus delapan puluh yang tersebar di berbagai negeri, seperti di Makkah, Kufah, Bashrah, Baghdad, Yaman dan negeri lainnya. Di antara mereka adalah:
  1. Ismail bin Ja’far
  2. Abbad bin Abbad al-Ataky
  3. Umari bin Abdillah bin Khalid
  4. Husyaim bin Basyir bin Qasim bin Dinar as-Sulami
  5. Imam Syafi'i
  6. Waki’ bin Jarrah
  7. Ismail bin Ulayyah
  8. Sufyan bin ‘Uyainah
  9. Abdur Razzaq
  10. Ibrahim bin Ma’qil
Murid-murid Ahmad bin Hanbal
Mayoritas ahli hadits pernah belajar kepada Imam Ahmad bin Hambal. Bahkan ulama yang pernah menjadi gurunya pun pernah belajar kepadanya juga. Yang paling menonjol adalah:
  1. Imam Bukhari
  2. Muslim
  3. Abu Daud
  4. An-Nasa'i
  5. Tirmidzi
  6. Ibnu Majah
  7. Imam asy-Syafi'i
  8. Putranya, Shalih bin Imam Ahmad bin Hambal
  9. Putranya, Abdullah bin Imam Ahmad bin Hambal
  10. Keponakannya, Hambal bin Ishaq
Wafatnya Ahmad bin Hanbal
Setelah sakit sembilan hari, beliau Rahimahullah menghembuskan napas terakhirnya di pagi hari Jum’at, bertepatan dengan tanggal dua belas Rabi’ul Awwal 241 H, pada usia 77 tahun. Jenazah beliau dihadiri 800.000 pelayat lelaki dan 60.000 pelayat perempuan.
Karya-Karya Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah
  1. Kitab Al Musnad, karya yang paling menakjubkan karena kitab ini memuat lebih dari 27.000 hadits.
  2. Kitab at-Tafsir, namun Adz-Dzahabi mengatakan, “Kitab ini telah hilang.”
  3. Kitab an-Nasikh wa al-Mansukh
  4. Kitab at-Tarikh
  5. Kitab Hadits Syu'bah
  6. Kitab al-Muqaddam wa al-Mu'akkhar fi al-Qur`an
  7. Kitab Jawabah al-Qur`an
  8. Kitab al-Manasik al-Kabir
  9. Kitab al-Manasik as-Saghir
Menurut Imam Nadim, kitab berikut ini juga merupakan tulisan Imam Ahmad bin Hanbal
  1. Kitab al-'Ilal
  2. Kitab al-Manasik
  3. Kitab az-Zuhd
  4. Kitab al-Iman
  5. Kitab al-Masa'il
  6. Kitab al-Asyribah
  7. Kitab al-Fadha'il
  8. Kitab Tha'ah ar-Rasul
  9. Kitab al-Fara'idh
  10. Kitab ar-Radd ala al-Jahmiyyah
Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Ahmad_bin_Hanbal#Keluarga

Imam Syafi'i



Biografi
Imam Syafi’i yang dikenal sebagai pendiri madzhab Syafi’iyyah memiliki nama lengkap Muhammad bin Idris As Syafi’i Al Quraisy. Beliau dilahirkan di daerah Gaza, Palestina, pada tahun 150 H pada bulan Rajab.
 Nasab Imam Syafi’i 
Beliau bernama Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin Sa’ib bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Abdillah bin Abdi Manaf. Kunyah (panggilan kehormatan) beliau adalah Abu Abdillah (bapaknya Abdullah), dikarenakan salah seorang anak beliau yang bernama Abdullah. Nasab Imam Syafi’i bertemu dengan nasab Rasulullah SAW pada Abdu Manaf. Sedangkan Hasyim, kakek Imam Syafi’i, bukanlah kakek dari Rasulullah SAW.
            Diriwayatkan, bahwa ketika beberapa hari setelah ibunda Imam Syafi’i melahirkan, terdengar kabar dari Baghdad tentang meninggalnya Imam Abu Hanifah. Tatkala diteliti dengan seksama ternyata hari meninggalnya Imam Abu Hanifah bertepatan dengan saat lahirnya Imam Syafi’i. Para ulama waktu itu mengisyaratkan bahwa Muhammad yang baru lahir itu kelak akan mengikuti derajat keilmuan Imam Abu Hanifah.
Hadits Rasulullah SAW yang mengisyaratkan kedatangan Imam Syafi’i 
Para ulama telah menelaah sejumlah hadits dari Rasulullah SAW yang berkenaan dengan kegembiraan Rasulullah SAW kepada Imam Syafi’i. Hadits dari Ibnu Mas’ud RA, “Rasulullah SAW telah bersabda, ‘Janganlah kamu mencaci-maki kaum Quraisy! Karena orang alim Quraisy itu ilmunya akan memenuhi bumi. Ya Allah, Engkau telah memberi siksaan pada awal Quraisy, maka berilah anugerah pada akhir Quraisy’.”
Hadits dari Ali bin Abi Thalib, beliau berkata, “Rasulullah SAW telah bersabda, ‘Janganlah kamu mengimami orang Quraisy dan bermakmumlah kamu pada mereka. Jangan mendahului Quraisy, akan tetapi dahulukanlah mereka. Jangan kamu mengajari Quraisy, tetapi belajarlah dari mereka! Karena ilmu orang alim Quraisy akan menyebar ke seluruh dunia’.”
Kesungguhan Imam Syafi’i dalam menuntut ilmu
Meskipun dibesarkan dalam keadaan yatim dan kondisi keluarga yang serba kekurangan, namun hal itu tidak menjadikan beliau rendah diri, minder, apalagi malas. Sebaliknya, keadaan itu membuat beliau makin giat menuntut ilmu. Pada umur 9 tahun beliau telah hafal Alquran seluruhnya. Beliau banyak berdiam di Masjid al-Haram dimana beliau menuntut ilmu pada ulama-ulama dalam berbagai bidang ilmu. Beliau mencatat ilmu-ilmu yang telah diperolehnya pada kertas-kertas, kulit dan tulang binatang. Hingga pada suatu hari kamar tempat istirahatnya penuh oleh kertas, kulit dan tulang. Maka seluruh catatan pada benda-benda itu dihafal oleh beliau semuanya, lalu setelah itu benda-benda tersebut dibakarnya. 
IQ Imam Syafi’i
Kekuatan hafalan Imam Syafi’i sangat mencengangkan, sampai-sampai seluruh kitab yang dibaca dapat dihafalnya. Ketika beliau membaca satu kitab, beliau berusaha menutup halaman yang kiri dengan tangan kanannya karena khawatir akan melihat halaman yang kiri dan menghafalnya terlebih dahulu sebelum beliau hafal halaman yang kanan. 
Mengenai hal ini, beliau bercerita bahwa beliau pernah bermimpi bertemu Rasulullah SAW dan Rasulullah SAW berkata kepadanya, “Siapa kamu hai anak muda?”  Imam Syafi’i berkata, “Aku termasuk umatmu, ya Rasulallah,”  Rasul berkata, “Mendekatlah padaku!” Imam Syafi’i lalu mendekat kepada Rasulullah SAW, lalu Rasul mengambil air liurnya dan meletakkan air liur itu ke dalam mulut dan bibir Imam Syafi’i. Setelah itu Rasulullah SAW berkata padanya, “Berangkatlah, semoga Allah memberkahimu!”  Setelah mimpi itu beliau tak pernah merasa kesulitan dalam menghafal ilmu. 
Beliau juga telah mencapai kemampuan berbahasa yang sangat indah. Kemampuan beliau dalam menggubah sya’ir dan ketinggian mutu bahasanya mendapat pengakuan dan penghargaan yang sangat tinggi dari orang-orang alim yang sezaman dengan beliau. 
Demikian tinggi prestasi-prestasi keilmuan yang telah beliau capai dalam usia yang masih sangat belia, sehingga guru-gurunya membolehkan beliau untuk berfatwa di Masjid al-Haram ketika beliau baru mencapai usia 15 tahun.
Dari Harmalah bin Yahya, ia berkata, “Aku telah mendengar Imam Syafi’i ditanya tentang seorang suami yang berkata kepada isterinya yang pada saat itu di mulutnya terdapat sebiji kurma, ‘Jika kamu makan korma itu, maka kamu aku talak (cerai) dan apabila kamu memuntahkannya, maka kamu juga aku talak (cerai),’ Maka Imam Syafi’i menjawab, ‘Makan separuh dan muntahkanlah separuhnya.’”
Al-Muzni berkata bahwa ketika Imam Asy-Syafi’i ditanya tentang burung unta yang menelan mutiara milik orang lain, lalu pemilik unta berkata, “Aku tidak menyuruhnya untuk menelannya.” Maka Imam Syafi’i menjawab, “Kalau pemilik mutiara ingin mengambil mutiara itu, maka sembelih dan keluarkanlah mutiara itu dari perutnya, lalu dia harus menebus burung unta tersebut dengan harga antara burung itu hidup dan sudah disembelih.”
Ma’mar bin Syu’aib berkata, “Aku mendengar Amirul Mukminin al-Makmun bertanya kepada Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i. Al-Makmun berkata, ‘Wahai Muhammad, apa alasannya Allah menciptakan lalat?’ Mendengar pertanyaan itu, Imam Asy-Syafi’i terdiam sesaat, lalu dia menjawab, ‘Wahai Amirul Mukminin, lalat itu diciptakan untuk menghinakan para raja.’
Dengan seketika, al-Makmun tertawa terbahak-bahak. Lalu ia berkata, ‘Wahai Muhammad, aku telah melihat lalat jatuh ketika ada di pipiku.’ Sehingga Imam Asy-Syafi’i pun membalasnya dengan berkata, ‘Benar tuanku. Sebenarnya ketika tuanku menanyakan hal tersebut kepadaku, aku tidak mempunyai jawabannya. Ketika aku melihat lalat itu jatuh tanpa ada suatu sebab dari pipi tuanku tersebut, maka aku baru menemukan jawabannya.’ Kemudian Al-Makmun berkata, ‘Wahai Muhammad, segalanya adalah kekuasaan Allah.’”
Ibrahim bin Abi Thalib al-Hafidz berkata, “Aku bertanya kepada Abu Qudamah as-Sarkhasi tentang Imam Asy-Syafi’i, Imam Ahmad, Abu Ubaid dan Ibnu Rahawaih, maka dia menjawab, ‘Imam Asy-Syafi’i adalah orang yang paling cerdas di antara mereka semua.’”
Ar-Rabi’ berkata, “Pada suatu hari ketika aku sedang bersama Imam asy-Syafi’i, seseorang datang dan bertanya, ‘Wahai guru, apa pendapatmu tentang orang yang sedang bersumpah, ‘Apabila dalam sakuku terdapat banyak uang dirham lebih dari tiga dirham, maka budakku merdeka.’ Sedangkan dalam saku orang yang bersumpah tersebut hanya terdapat uang sebanyak empat dirham saja. Apakah orang itu harus memerdekakan budaknya?’ Maka Imam Syafi’i menjawab, ‘Ia tidak wajib memerdekakan budaknya.’ Ketika penanya minta penjelasan lebih lanjut, maka Imam Asy-Syafi’i berkata, ‘Orang tersebut telah mengecualikan sumpahnya dengan banyak dirham, sedangkan empat dirham itu mempunyai kelebihan satu dari tiga dirham yang disumpahkan. Satu dirham bukanlah banyak dirham sebagaimana yang dimaksudkan dalam sumpahnya.’ Mendengar penjelasan ini, maka penanya kemudian berkata, ‘Aku beriman kepada Zat yang telah memberikan ilmu melalui lisanmu.’”
Kepergian Imam Syafi’i ke Madinah
Imam Syafi’i hidup sezaman dengan Imam Malik bin Anas, seorang ulama besar pendiri madzhab Maliki. Imam Malik bin Anas juga dikenal sebagai Ahli Hadits. Beliau menghimpun hadits-hadits nabi dalam kitab beliau yang berjudul Muwaththa’. Imam Syafi’i pernah meminjam kitab Muwattha’ pada salah seorang penduduk Mekkah dan menghafalnya dalam waktu singkat. Imam Syafi’i rindu untuk melihat Imam Malik di Madinah al-Munawwarah dan berharap dapat mengambil manfaat dari ilmu beliau.
Maka pada suatu hari berangkatlah Imam Syafi’i ke Madinah dengan niat untuk menuntut ilmu. Dalam perjalanan dari Mekkah menuju Madinah, beliau mengkhatamkan bacaan Al Qur’an sebanyak 16 kali. Malam satu kali khatam dan siangnya satu kali. Pada hari ke delapan beliau tiba di Madinah setelah Shalat Ashar. Beliau shalat di Masjid Nabawi dan berziarah terlebih dahulu ke makam Rasulullah SAW. Setelah itu baru beliau menuju kediaman Imam Malik bin Anas.
Ketika Imam Syafi’i menghadap Imam Malik, beliau berkata, “Mudah-mudahan Allah selalu memberimu kebaikan. Aku adalah seorang penuntut ilmu. Kondisi dan ceritaku begini dan begini…” Mendengar perkataan itu Imam Malik merasa kasihan dan bertanya kepadanya, “Siapa namamu?” Imam Syafi’i  menjawab, “Muhammad.” Imam Malik berkata kepadanya, “Wahai Muhammad, bertaqwalah kepada Allah dan hindarilah maksiat! Aku melihat di hatimu ada cahaya. Karena itu janganlah kamu padamkan cahaya itu dengan maksiat. Sesungguhnya cahaya itu akan menjadikanmu dibutuhkan oleh manusia.“ Imam Syafi’i menjawab, “Ya.”
Imam Malik lalu berkata, “Kalau besok kamu masih ada, kami akan mengajarkanmu Kitab Muwaththa’.” Imam Syafi’i berkata, “Wahai Imam, aku telah membaca Kitab Muwattha’ sampai hafal.” Imam Malik berkata, “Bacalah!” lalu Imam Syafi’i membaca dan Imam Malik menyimaknya. Ketika Imam Syafi’i khawatir Imam Malik lelah, maka beliau berhenti. Imam Malik lalu berkata, “Teruskan wahai anak muda! Aku akan memperbaiki bacaanmu.” Demikianlah, maka aktivitas harian Imam Syafi’i adalah membaca Kitab Muwaththa’ dibawah bimbingan Imam Malik sebagai pengarang kitab tersebut.
            Beliau pun selalu hadir di majlis ilmu Imam Malik yang menerangkan tentang hadits-hadits Rasulullah SAW. Imam Malik memuji kuatnya hafalan dan keluasan pemahaman Imam Syafi’i terhadap ilmu yang dipelajarinya. Seringkali sehabis membacakan kitabnya, Imam Malik meminta Imam Syafi’i untuk menyampaikannya kepada orang lain. Imam Malik juga sering memberikan hadiah kepada sang murid tersebut sebagai wujud rasa cinta dan perhatian beliau kepadanya.
Demikian juga Imam Syafi’i begitu mencintai gurunya dengan sepenuh hati. Beliau berkata, “Imam Malik bin Anas adalah guruku. Dari beliau aku belajar dan tidak ada orang yang aku percaya kecuali Malik bin Anas. Dan aku menjadikan Malik bin Anas sebagai hujjah (saksi) antara aku dan Allah.”
Kepergian Imam Syafi’i ke Iraq
Pada waktu Imam Syafi’i telah menyelesaikan pelajarannya pada Imam Malik, beliau mendengar kabar tentang Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan yang sekaligus adalah murid dan sahabat Imam Abu Hanifah yang sedang berada di Iraq, Kufah. Beliau ingin sekali bertemu dengan mereka berdua. Maka Imam Syafi’i lantas memohon izin kepada Imam Malik untuk pergi ke Iraq. Imam Malik memberi tambahan bekal kepada beliau dan menyewakannya hewan tunggangan menuju kota Kufah.
Di Kufah, begitu berjumpa dengan Abu Yusuf  dan Muhammad bin Hasan, mereka berdua sangat gembira dengan kedatangan Imam Syafi’i. Mereka bertanya kepada beliau tentang Imam Malik bin Anas. Beliau berkata, “Aku telah datang kepadanya.” Salah satu dari keduanya berkata, “Apakah kamu melihat kitab Muwaththa’?” Imam Syafi’i menjawab, “Aku telah menghafal kitab tersebut dalam lubuk hatiku.”
Itu semua telah membuat Muhammad bin Hasan dan Abu Yusuf menaruh hormat kepada Imam Syafi’i. Muhammad bin Hasan lalu bertanya kepada beliau tentang masalah thaharah, zakat, jual beli dan masalah lainnya yang dijawab dengan jawaban yang sangat bagus oleh Imam Syafi’i. Bertambah kagumlah Muhammad bin Hasan kepada beliau. Kemudian ia mengajak Imam Syafi’i ke rumahnya dan mengizinkan Imam Syafi’i untuk menyalin kitab apa saja yang dia inginkan yang ada di perpustakaan miliknya.
Selama di Kufah, Imam Syafi’i menjadi tamu Muhammad bin Hasan. Ketika beliau telah selesai mempelajari kitab-kitab di perpustakaan Muhammad bin Hasan, beliau lantas mohon izin untuk meneruskan perjalanan menuju Persia dan kota-kota disekitarnya.
Kembali ke Madinah
Ketika beliau di kota Romlah, ada serombongan orang Madinah datang. Beliau bertanya tentang keadaan guru beliau, Imam Malik bin Anas. Mereka menjawab bahwa Imam Malik dalam keadaan sehat. Imam Syafi’i merasa rindu dan ingin sekali berjumpa dengan guru yang sangat dicintainya itu. Maka beliau pun mempersiapkan diri untuk perjalanan menuju Madinah.
Sampai di Madinah, setelah berziarah ke makam Rasulullah SAW, beliau lantas menuju pengajian Imam Malik. Ketika Imam Malik mengetahui kehadiran Imam Syafi’i, beliau memanggilnya dan memeluknya dengan penuh kerinduan. Murid-murid Imam Malik yang lain merasa terharu melihat peristiwa ini. Imam Malik lalu membawa Imam Syafi’i duduk di sisinya. Beliau berkata, “Ajarilah ini, wahai Syafi’i.” Setelah menyelesaikan pelajaran itu, Imam Malik mengajak Imam Syafi’i ke rumahnya.
Imam Syafi’i tinggal selama beberapa tahun di Madinah. Selama itu beliau senantiasa mendapat perlakuan yang istimewa dan sangat diperhatikan oleh gurunya. Pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 179 H, Imam Malik bin Anas wafat dan dimakamkan  di pemakaman Baqi’ di kota Madinah. Seluruh penduduk Madinah tenggelam dalam duka cita karena meninggalnya Sang Imam yang sangat alim dan mulia ini.
Setelah wafatnya Imam Malik, Imam Syafi’i masih tinggal beberapa lama di Madinah. Beliau kemudian pergi ke Yaman, menetap dan mengajarkan ilmunya di sana.
Berita tentang keluasan ilmu beliau segera saja menyebar ke seluruh negeri. Orang berduyun-duyun datang untuk menyimak pelajaran yang beliau sampaikan. Ketinggian ilmu dan ma’rifahnya, baik itu dibidang fiqh, hadits, filsafat, kedokteran, ilmu falak dan lain-lain membuat khalifah Harun al-Rasyid mengundang beliau dan meminta beliau untuk mengajar di kota Baghdad.
Sejak saat itu beliau dikenal secara luas dan lebih banyak lagi orang yang datang menuntut ilmu padanya. Pada waktu itulah madzhab beliau mulai dikenal. Imam Syafii mengajar banyak orang yang kelak sebagian dari mereka menjadi ulama-ulama yang besar pula. Diantara murid beliau yaitu Imam Ahmad bin Hanbal yang kelak dikenal sebagai salah seorang Imam Madzhab juga. 
Semua orang, baik dari kalangan pejabat maupun rakyat sangat mencintai dan mengagungkan kedudukan Imam Syafi’i. Demikian pula murid-murid beliau begitu menaruh hormat padanya. Ini terbukti ketika Imam Ahmad bin Hanbal sakit dan Imam Syafi’i membesuknya. Waktu beliau sampai di rumahnya, Imam Ahmad bin Hanbal langsung turun dari tempat tidurnya dan meminta Imam Syafi’i untuk duduk di tempat itu. Sedangkan Imam Ahmad bin Hanbal duduk di tanah dan sewaktu-waktu beliau bertanya pada Imam Syafi’i. 
Ketika Imam Syafi’i hendak pulang, Imam Ahmad bin Hanbal menaikkan  beliau ke hewan tunggangannya. Lalu Imam Ahmad bin Hanbal naik ke tunggangannya, padahal beliau dalam kondisi sakit. Imam Ahmad berjalan dengan menerobos jalan-jalan dan pasar-pasar Baghdad, sampai ia bisa mengantar Imam Syafi’i tiba di rumahnya.
Pulang ke Mekkah
Setelah beberapa waktu berada di Baghdad, beliau bermaksud pulang ke Mekkah. Memakan waktu perjalanan beberapa hari, akhirnya beliau sampai di Mekkah. Waktu itu tahun 181 H. Sebelum masuk kota Mekkah, beliau mendirikan kemah di luar kota. Penduduk Mekkah keluar untuk menyampaikan salam dan menyambutnya. Beliau lalu membagi-bagikan seluruh emas dan perak yang beliau miliki kepada mereka. Hal itu dilakukan untuk melaksanakan wasiat ibunya ketika beliau datang ke Mekkah. Begitulah, Imam Syafi’i masuk ke kota Mekkah dalam keadaan tidak membawa apapun, sama seperti ketika beliau keluar dari Mekkah dalam keadaan tidak membawa benda apapun.
Beliau tinggal di Mekkah selama 17 tahun. Selama berada di sana, beliau mengajarkan ilmu pada manusia. Madzhab Imam Syafi’i tersebar di antara jamaah haji dan mereka membawa madzhab tersebut ke tempat asal mereka masing-masing.
Selama 17 tahun tinggal di Mekkah, beliau mendengar wafatnya Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan yang dahulu pernah ditemuinya di kota Kufah. Setelah itu wafat pula Harun al-Rasyid.
Setelah sekian lama tinggal di Mekkah, beliau lantas kembali ke kota Baghdad. Disana beliau melanjutkan kegiatan mengajar selama beberapa waktu. Setelah itu beliau bermaksud hendak pergi ke Mesir. Ketika penduduk Baghdad mendengar akan kepergian orang mulia ini, maka mereka keluar untuk mengadakan perpisahan dengan beliau. Di tengah-tengah penduduk ini ada Imam Ahmad bin Hanbal. Maka diwaktu itu Imam Syafi’i memegang erat tangan Imam Ahmad bin Hanbal dan berkata, “Sungguh aku rindu akan bumi Mesir. Selain Mesir adalah bumi yang tandus, demi Allah aku tidak tahu untuk kemuliaan atau untuk kaya aku pindah ke Mesir. Atau pindah ke kubur?”
Seakan-akan Imam Syafii merasa akan wafat di Mesir dan kuburannya akan berada di negeri itu, lalu beliau menangis. Imam Ahmad bin Hanbal dan semua orang yang menyaksikan perpisahan itu menangis semua. Imam Ahmad bin Hanbal pulang sambil bercucuran air mata dan berkata pada para penduduk Baghdad, “Sungguh ilmu fiqih telah tertutup, lalu Allah membukakan ilmu itu dengan kedatangan Imam Syafi’i.”
Menetap di Mesir
Di negeri Mesir segera saja penduduknya jatuh hati pada Imam Syafi’i. Para ulama negeri itu juga memuliakannya dan meminta beliau untuk mengajar di masjid Amr bin Ash. Beliau mengajar sehabis subuh sampai zhuhur. Imam Syafi’i adalah orang pertama yang mengajar ilmu hadits di Mesir sampai zhuhur. Setelah itu beliau melanjutkan pelajaran di rumahnya.
Para ulama dan orang-orang jenius terpelajar lainnya datang menyimak pelajaran yang beliau sampaikan, baik di masjid maupun di rumah. Di antara orang-orang yang belajar pada beliau yang kelak menjadi ulama terkenal adalah Muhammad bin Abdullah bin Hakam, Abu Ibrahim bin Ismail bin Yahya Al-Muzani, Abu Yaqub Yusuf  bin Yahya al-Buwaithi, Rabi’ al-Jizi dan lain sebagainya.
Ketika di Mesir ini pula Imam Syafi’i banyak menulis kitab yang berisi madzhab beliau. Di antara kitabnya adalah Al-Umm, Imla al-Shaghir, Jizyah, ar-Risalah dan lain sebagainya.
Sebagian dari akhlak Imam Syafi’i
Imam Syafi’i adalah seorang yang taqwa, zuhud dan wara’. Beliau juga sangat santun dalam memberi peringatan kepada orang yang melakukan kesalahan. Hatinya sangat lembut dan dermawan terhadap harta.
Baihaqi meriwayatkan dari Hasan bin Habib. Dia berkata, “Aku melihat Imam Syafi’i menunggang kuda melewati pasar sepatu. Tiba-tiba cambuknya jatuh dan mengenai salah seorang pedagang sepatu. Lalu pedagang sepatu itu mengusap cambuk untuk membersihkannya dan memberikan cambuk itu pada beliau. Imam Syafi’i lalu menyuruh budaknya untuk memberikan uangnya pada pedagang itu.”
Tiada hari yang dilewati beliau tanpa bershadaqah. Siang dan malam beliau selalu bershadaqah, apalagi di bulan Ramadhan. Beliau juga sering mengunjungi fakir miskin dan menjamin kebutuhan-kebutuhan mereka. Untuk menafkahi keluarganya beliau berdagang.
Imam Syafi’i sangat baik dalam memperlakukan kerabat-kerabatnya. Beliau menghormati mereka dan tidak menyombongkan dirinya. Beliau menghormati orang sesuai posisinya. Imam Syafi’i pernah berkata, “Paling zhalimnya orang adalah ia yang menjauhi kerabatnya, tidak mau tahu terhadap mereka, meremehkan dan sombong pada orang yang memiliki keutamaan.”
Beliau juga senantiasa memaafkan orang yang berbuat kesalahan kepadanya. Beliau membalas kejahatan dengan kebaikan dan tidak pernah menyimpan dendam kepada seseorang.
Pujian Ahmad bin Hanbal kepada Imam Syafi’i
Sewaktu di Baghdad, Imam Syafi’i selalu bersama Imam Ahmad bin Hanbal. Demikian cintanya pada Imam Syafi’i, sehingga putra-putri Imam Ahmad merasa penasaran kepada bapaknya itu. Putri Imam Ahmad memintanya untuk mengundang Imam Syafii bermalam di rumah untuk mengetahui perilaku beliau dari dekat. Imam Ahmad bin Hanbal lalu menemui Imam Syafi’i dan menyampaikan undangan itu.
Ketika Imam Syafi’i telah berada di rumah Imam Ahmad, putrinya lalu membawakan hidangan. Imam Syafi’i memakan banyak sekali makanan itu dengan sangat lahap. Ini membuat heran putri Imam Ahmad bin Hanbal. 
Setelah makan malam, Imam Ahmad bin Hanbal mempersilakan Imam Syafi’i untuk beristirahat di kamar yang telah disediakan. Putri Imam Ahmad melihat Imam Syafi’i langsung merebahkan tubuhnya dan tidak bangun untuk melaksanakan shalat malam. Pada waktu subuh tiba beliau langsung berangkat ke masjid tanpa berwudhu terlebih dulu.
Sehabis shalat subuh, putri Imam Ahmad bin Hanbal langsung protes kepada ayahnya tentang perbuatan Imam Syafi’i, yang menurutnya kurang mencerminkan keilmuannya. Imam Ahmad yang menolak untuk menyalahkan Imam Syafi’i, langsung menanyakan hal itu kepada Imam Syafi’i.
Mengenai hidangan yang dimakannya dengan sangat lahap, beliau berkata, “Ahmad, memang benar aku makan banyak dan itu ada alasannya. Aku tahu hidangan itu halal dan aku tahu kau adalah orang yang pemurah. Maka aku makan sebanyak-banyaknya. Sebab makanan yang halal itu banyak berkahnya dan makanan dari orang yang pemurah adalah obat. Sedangkan malam ini adalah malam yang paling berkah bagiku.” “Kenapa begitu, wahai guru?” Tanya Imam Ahmad. “Begitu aku meletakkan kepala di atas bantal, seolah Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW nampak digelar di hadapanku. Aku menelaah dan telah menyelesaikan seratus masalah yang bermanfaat bagi orang Islam, karena itu aku tak sempat shalat malam.”
Imam Ahmad bin Hanbal berkata pada putrinya, “Inilah yang dilakukan guruku pada malam ini. Sungguh, berbaringnya beliau lebih utama dari semua yang aku kerjakan pada waktu tidak tidur.”
Imam Syafi’i melanjutkan, “Aku shalat subuh tanpa wudlu sebab aku masih suci. Aku tidak memejamkan mata sedikit pun. Wudluku masih terjaga sejak isya, sehingga aku bisa shalat subuh tanpa berwudlu lagi.”
Di lain kesempatan, Imam Ahmad bin Hanbal pernah berkata, “Aku tidak pernah shalat sejak 40 tahun silam kecuali dalam shalatku itu aku berdoa untuk Imam Syafi’i.” Abdullah, putranya, lantas bertanya, “Wahai ayahku, seperti apakah Imam Syafi’i, sehingga ayah selalu berdoa untuknya?” Imam Ahmad bin Hanbal menjawab, “Wahai anakku, Imam Syafi’i bagaikan matahari bagi dunia dan seperti kesehatan bagi tubuh. Lihatlah anakku, betapa pentingnya dua hal itu!” 
Abdul Malik bin Abdul Hamid al-Maimuni berkata, “Aku berada di sisi Ahmad bin Hanbal dan beliau selalu menyebut Imam Syafi’i. Aku selalu melihat beliau mengagungkan Imam Syafi’i.”
Wafatnya Imam Syafi’i
Beliau wafat pada malam jum’at, akhir bulan Rajab tahun 204 H, setelah mengalami sakit selama beberapa waktu. Setelah isya, ruh beliau yang suci kembali ke Rahmatullah di pangkuan murid beliau, yaitu Rabi’ al-Jizi. Jenazah beliau dimakamkan dengan iringan tangis dan rintih duka cita dari segenap penduduk Mesir.
Sumber: Dinukil dari kitab Min A’lamis Salaf karya, Syaikh Ahmad Farid, edisi indonesia: 60 Bigrafi
Makam Imam Syafi'i

Sumber: Dinukil dari kitab Min A’lamis Salaf karya, Syaikh Ahmad Farid, edisi indonesia: 60 Bigrafi