Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Minggu, 10 November 2013

10. Abu Ubaidah Bin al-Jarroh RA

Abu ‘Ubaidah bin al-Jarroh RA

Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah RA lahir di Mekah, dari keluarga suku Quraisy yang terhormat. Keluarganya dari kalangan pedangang Arab. Nama lengkapnya adalah ‘Amir bin Abdullah bin Jarrah yang dijuluki dengan nama Abu ‘Ubaidah. Beliau berperawakan tinggi, kurus, berwibawa, bermuka ceria, rendah diri dan sangat pemalu. Beliau termasuk orang yang berani ketika dalam kesulitan dan disenangi oleh semua orang yang melihatnya. Siapa pun yang mengikutinya akan merasa tenang. Nabi SAW pernah bersabda tentang beliau, “Sesungguhnya setiap umat mempunyai orang kepercayaan, dan kepercayaan umat ini adalah Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah.”

Memeluk Islam
Beliau memeluk Islam selang sehari setelah Sayyidina Abu Bakar as-Shiddiq RA memeluk Islam. Beliau masuk Islam bersama Abdurrahman bin ‘Auf, Utsman bin Maz’un dan Arqam bin Abu al-Arqam, di tangan Abu Bakar as-Shiddiq. Sayyidina Abu Bakarlah yang membawakan mereka menemui Rasulullah SAW untuk menyatakan dua kalimah syahadat di hadapan Baginda SAW.

Kehidupan
Kehidupan beliau tidak jauh berbeda dengan kebanyakan sahabat lainnya, diisi dengan pengorbanan dan perjuangan menegakkan Agama Islam. Hal itu tampak ketika beliau harus hijrah ke Ethiopia pada gelombang kedua demi menyelamatkan aqidahnya. Namun kemudian beliau kembali pulang untuk menyertai perjuangan Rasulullah SAW.
Abu ‘Ubaidah mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah SAW. Beliaulah yang membunuh ayahnya yang berada di pasukan musyrikin dalam perang Badar. Dalam perang Badar, Abu ‘Ubaidah al-Jarrah mencoba menghindari kontak fisik dengan ayahnya yang berada dalam barisan pasukan Quraisy yang menentang Rasulullah SAW, tetapi ayahnya yang bernama Abdulloh telah bersumpah akan membunuh anaknya sendiri karena menjadi pengikut Muhamad SAW. Abdullah terus memburu anaknya hingga akhirnya dalam satu kesempatan pada saat perang Badar bertemulah antara seorang ayah dan seorang anak dalam posisi sebagai pasukan musyrikin dan muslimin. Lalu Abu ‘Ubaidah al-Jarrah terpaksa berhadapan dengan ayahnya sendiri, kemudian Abu ‘Ubaidah al-Jarrah membunuh ayahnya. Beliau merasa sangat sedih sehingga turun ayat Al-Quran surah Al Mujadalah ayat 22.

Sifat Mulia
Ketika dalam peperangan Uhud, tatkala pasukan muslimin kocar kacir dan banyak yang lari meninggalkan medan pertempuran, Abu ‘Ubaidah berlari untuk mendapatkan Nabinya tanpa takut sedikit pun terhadap pihak lawan. Ketika beliau mendapati pipi Nabi SAW terluka karena hujaman dua rantai besi pada penutup kepala Nabi SAW, segera ia berusaha untuk mencabut rantai tersebut dari pipi Nabi SAW. Lalu Abu ‘Ubaidah mulai mencabut rantai tersebut dengan gigitan giginya. Rantai itu pun akhirnya terlepas dari pipi Rasulullah SAW. Namun bersamaan dengan itu pula gigi seri Abu ‘Ubaidah ikut terlepas dari tempatnya. Abu ‘Ubaidah tidak putus asa. Diulanginya sekali lagi untuk mengigit rantai besi satunya yang masih menancap di pipi Rasulullah SAW hingga terlepas. Dan kali ini pun harus juga diikuti dengan lepasnya gigi Abu ‘Ubaidah sehingga dua gigi depan sahabat ini rongak karenanya. Sungguh, satu keberanian dan pengorbanan yang tak ternilai harganya. Dalam riwayat lain Abu ‘Ubaidah mencabut anak panah yang terkena pada rahang Baginda SAW. Rasulullah SAW memberinya gelar “Gagah dan Jujur”. Suatu ketika datang sebuah delegasi dari kaum Kristian menemui Rasulullah SAW. Mereka mengatakan, “Ya Abal Qasim! Kirimkanlah bersama kami seorang sahabatmu yang engkau percayai untuk menyelesaikan perkara kebendaan yang sedang kami selisihkan, karena kaum muslimin di pandangan kami adalah orang yang disenangi.” Rasulullah SAW bersabda kepada mereka, “Datanglah ke sini petang nanti, saya akan kirimkan bersama kamu seorang yang gagah dan jujur.”
Dalam kaitan ini, Sayyidina Umar bin al-Khattab RA mengatakan, “Saya berangkat tergesa-gesa untuk menunaikan solat Dzuhur, sama sekali bukan karena ingin ditunjuk sebagai delegasi. Setelah Rasulullah SAW selesai mengimami solat Dzuhur bersama kami, beliau melihat ke kiri dan ke kanan. Saya sengaja meninggikan kepala saya agar beliau melihat saya, namun beliau masih terus membolak-balikan pandangannya kepada kami. Akhirnya beliau melihat Abu ‘Ubaidah bin Jarrah, lalu beliau memanggilnya sambil berkata, ‘Pergilah bersama mereka, selesaikanlah masalah yang menjadi perselisihan di antara mereka dengan adil.’ Lalu Abu ‘Ubaidah pun berangkat bersama mereka.”
Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya dalam setiap kaum terdapat orang yang jujur. Orang yang jujur di kalangan umatku adalah Abu ‘Ubaidah al-Jarrah.” Dalam hadis yang lain Rasulullah SAW bersabda lagi, “Tiap-tiap umat ada orang yang memegang amanah. Dan pemegang amanah umat ini ialah Abu ‘Ubaidah al-Jarrah.”
Beliau juga seorang yang zuhud, tidak tamak pangkat, jabatan dan harta. Di bawah pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, Abu ‘Ubaidah al-Jarrah dilantik menjadi ketua pasukan tentara Islam untuk menaklukan kota-kota besar yang berada di bawah pemerintahan Romawi seperti Kota Damsyik, Syria, Syam, Kota Aleppo, Kota Hims, Kota Antakiah dan Kota al-Quds di Baitul Maqdis.
Ketika Khalifah Umar bin Khattab berkunjung ke Baitul Maqdis, beliau singgah di Romawiah Abu ‘Ubaidah al-Jarrah. Dilihatnya yang ada dalam Romawiah ketua panglima Islam itu hanyalah pedang, perisai dan pelana kuda saja. Lalu Sayyidina Umar bertanya kepadanya, “Wahai sahabatku, mengapa engkau tidak mengambil sesuatu dari harta rampasan perang sebagaimana orang lain mengambilnya?” Tanya Umar al Khattab. “Wahai ‘Amirul Mu’minin, ini saja sudah cukup bagiku,” jawab Abu ‘Ubaidah al-Jarrah.
Sayyidina Umar bin Khattab melantik Abu ‘Ubaidah al-Jarrah sebagai pemimpin tentara Islam untuk merebut kembali kawasan tanah Arab yang dijajah oleh kerajaan Romawi. Beliau berhasil dalam tugas yang diberikan kepadanya itu sehingga bisa menaklukan Baitul Maqdis.
Sepeninggal Rasulullah SAW, Umar bin Al-Khattab RA mengatakan kepada Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah di hari Tsaqifah, “Ulurkan tanganmu! Agar saya berbai’at kepadamu, karena saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sungguh dalam setiap kaum terdapat orang yang jujur. Orang yang jujur di kalangan umatku adalah Abu ‘Ubaidah.’” Lalu Abu ‘Ubaidah menjawab, “Saya tidak mungkin berani mendahului orang yang dipercayai oleh Rasulullah SAW menjadi imam kita di waktu solat (Sayyidina Abu Bakar as-Shiddiq RA), oleh sebab itu kita patut menjadikannya imam sepeninggal Rasulullah SAW.”

Peperangan Yang Diikuti.
Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah RA ikut serta dalam semua peperangan Islam, bahkan selalu memperoleh kemenangan besar dalam setiap peperangan tersebut. Beliau berangkat membawa pasukan menuju negeri Syam, dengan izin Allah beliau berhasil menaklukan semua negeri tersebut.
Ketika wabah penyakit Tho’un merajarela di negeri Syam, Khalifah Umar bin Al-Khattab RA mengirim surat untuk memanggil kembali Abu ‘Ubaidah. Namun Abu ‘Ubaidah menyatakan keberatannya sesuai dengan isi surat yang dikirimkannya kepada khalifah yang berbunyi, “Hai ‘Amirul Mukminin! Sebenarnya saya tahu kamu memerlukan saya, akan tetapi seperti kamu ketahui saya sedang berada di tengah-tengah tentara Muslimin. Saya tidak ingin menyelamatkan diri sendiri dari musibah yang menimpa mereka dan saya tidak ingin berpisah dari mereka sampai Allah sendiri menetapkan keputusannya terhadap saya dan mereka. Oleh sebab itu, sesampainya surat saya ini, tolonglah bebaskan saya dari rencana baginda dan izinkanlah saya tinggal di sini.” Setelah Umar RA membaca surat itu, beliau menangis, sehingga para hadirin bertanya, “Apakah Abu ‘Ubaidah sudah meninggal?” Umar menjawabnya, “Belum, akan tetapi kematiannya sudah di ambang pintu.”
Menjelang kematian Abu ‘Ubaidah RA, beliau sempat berpesan kepada tentaranya, “Dirikanlah solat, tunaikanlah zakat, puasalah di bulan Ramadhan, berdermalah, tunaikanlah ibadah haji dan umrah, saling nasihat menasihatilah, berilah nasihat kepada pemimpin kamu, jangan menipu, jangan terpesona dengan harta dunia. Sesungguhnya Allah telah menetapkan kematian untuk setiap manusia, karena itu semua manusia pasti akan mati. Orang yang paling beruntung adalah orang yang paling taat kepada Allah dan paling banyak bekalnya untuk akhirat, assalamu ‘alaikum”. Kemudian beliau menoleh kepada Mu’adz bin Jabal RA dan mengatakan, “Ya Mu’adz! Imamilah solat mereka.” Setelah itu, Abu ‘Ubaidah RA pun menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Setelah Abu ‘Ubaidah al-Jarrah meninggal dunia, Mu’adz bin Jabal mengambil alih tempatnya lalu berkata di hadapan orang ramai, “Wahai sekalian kaum Muslimin! Kamu sudah dikejutkan dengan berita kematian seorang pahlawan, yang demi Allah saya tidak menemukan ada orang yang lebih baik hatinya, lebih jauh pandangannya, lebih suka terhadap hari kemudian dan sangat senang memberi nasihat kepada semua orang. Oleh sebab itu kasihanilah beliau, semoga kalian akan dikasihani Allah.”

Meninggal
Abu ‘Ubaidah al-Jarrah meninggal dunia pada tahun 18 Hijrah di Urdun (Yordania) dalam wilayah Syam, karena diserang penyakit tho’un. Jenazahnya dikebumikan di kawasan yang pernah dibebaskannya dari kekuasaan Romawi dan Persia. Ketika itu beliau berusia 58 tahun. Beliau di kebumikan di Urdun (Yordania).
Sumber : Kitab Sirah Rasulullah, 75 gambaran kehidupan sahabat, 10 sahabat yang dijanjikan syurga.

Sabtu, 09 November 2013

9. Abdurrohman Bin 'Auf RA

Abdurrahman bin Auf RA


Abdurrahman bin Auf adalah salah satu Sahabat Nabi yang kaya raya dan dermawan karena kemahirannya dalam berdagang. Ia termasuk salah satu sahabat Nabi yang pertama menerima Islam (Assabiqunal Awwaluun). Abdurrahman memeluk agama Islam sebelum Rasulullah saw menjadikan rumah al-Arqam sebagai pusat dakwah. Ia mendapatkan hidayah dari Allah SWT dua hari sesudah Abu Bakar al-Shiddiq masuk Islam.

Abdurrahman bin 'Auf adalah seorang shahabat Nabi SAW yang mempunyai banyak keistimewaan, di antaranya adalah beliau diberitahukan masuk syurga oleh Allah SWT ketika masih hidup serta termasuk salah seorang dari enam orang anggota syura.

Kelahiran

Abdurrahman bin 'Auf dilahirkan pada tahun kesepuluh dari tahun Gajah dan umurnya lebih muda dari Nabi dengan selisih sepuluh tahun, karena Nabi dilahirkan pada tahun gajah yaitu tanggal 20 April 571M. Dengan demikian Abdurrahman dilahirkan pada tahun 581M. Namanya pada masa jahiliyah adalah Abdu Amru. Dalam satu pendapat lain Abdul Ka'bah. Lalu Nabi SAW menggantikannya menjadi Abdurrahman. Nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Auf bin Abdu Manaf bin Abdul Harits bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah al-Qurasyi al-Zuhri. Nasabnya bertemu dengan Nabi SAW pada Kilab bin Murrah. Kunyahnya adalah Abu Muhammad. Sedangkan laqabnya al-Shadiq al-Barr. Ibunya bernama asy-Syifa binti 'Auf bin Abdu bin al-Harits bin Zuhrah.

Kepribadian

Adalah sosok yang sangat bersegera dalam berinfak. Dialah Abdurrahman bin ‘auf, putih kulitnya, lebat rambutnya, banyak bulu matanya, mancung hidungnya, panjang gigi taringnya yang bagian atas, panjang rambutnya sampai menutupi kedua telinganya, panjang lehernya, serta lebar kedua bahunya. Dia adalah sahabat yang pandai berdagang dan sangat ulet. Maka mulailah ia menjual dan membeli. Selang beberapa saat ia sudah mengumpulkan keuntungan dari perdagangannya.
Disamping itu, ia juga sosok pejuang yang pemberani. Ia mengikuti peperangan-peperangan bersama Rasulullah. Pada waktu perang Badar, ia berhasil membunuh salah satu dari musuh-musuh Allah, yaitu Umair bin Utsman bin Ka’ab At Taimi. Keberaniannya juga nampak tatkala perang Uhud, medan dimana banyak diantara kaum muslimin yang lari, namun ia tetap ditempatnya dan terus berperang sehingga diriwayatkan, ia mengalami luka-luka sekitar dua puluh sekian luka. Akan tetapi perjuangannya di medan perang masih lebih ringan, jika dibanding dengan perjuangannya dalam harta yang dimilikinya.
Keuletannya berdagang serta doa dari Rasulullah, menjadikan perdagangannya semakin berhasil, sehingga ia termasuk salah seorang sahabat yang kaya raya. Kekayaan yang dimilikinya, tidak menjadikannya lalai serta tidak menjadi penghalangnya untuk jadi dermawan.
Diantara kedermawanannya adalah tatkala Rasulullah ingin melaksanakan perang Tabuk. Yaitu sebuah peperangan yang membutuhkan banyak perbekalan. Maka datanglah Abdurrahman bin ‘Auf dengan membawa dua ratus ‘uqiyah emas dan menginfakkannya di jalan Allah SWT. Sehingga berkata Umar bin Khattab, ”Sesungguhnya aku melihat, bahwa Abdurrahman adalah orang yang berdosa karena dia tidak meninggalkan untuk keluarganya sesuatu apapun.” Maka bertanyalah Rasulullah kepadanya, ”Wahai Abdurrahman, apa yang telah engkau tinggalkan untuk keluargamu?” Dia menjawab, ”Wahai Rasulullah, aku telah meninggalkan untuk mereka lebih banyak dan lebih baik dari yang telah aku infakan.” ”Apa itu?” tanya Rasulullah. Abdurrahman menjawab, ”Apa yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya berupa rizki dan kebaikan serta pahala yang banyak.”
Suatu ketika datanglah kafilah dagang Abdurrahman di kota Madinah, terdiri dari tujuh ratus unta yang membawa kebutuhan-kebutuhan. Tatkala masuk ke kota Madinah, terdengarlah suara hiruk pikuk. Maka berkata Ummul Mukminin, ”Suara apakah ini?” Maka dijawab, ”Telah datang kafilah Abdurrahman bin ‘Auf.” Ummul Mukminin berkata, ”Sungguh aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Aku melihat Abdurrahman masuk surga dengan keadaan merangkak’.” Ketika mendengarkan berita tersebut, Abdurrahman mengatakan, ”Aku ingin masuk surga dengan keadaan berdiri.” Maka diinfakanlah kafilah dagang tersebut.
Beliau juga terkenal senang berbuat baik kepada orang lain, terutama kepada Ummahatul Mukminin. Setelah Rasulullah wafat, Abdurrahman bin Auf selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Menyertainya apabila mereka berhaji, yang ini merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi Abdurrahman. Dia juga pernah memberikan kepada mereka sebuah kebun yang nilainya sebanyak empat ratus ribu.
Puncak dari kebaikannya kepada orang lain, ialah ketika ia menjual tanah seharga empat puluh ribu dinar, yang kemudian dibagikannya kepada Bani Zuhrah dan orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Ketika Aisyah mendapatkan bagiannya, ia berkata, ”Aku mendengar Rasulullah bersabda, tidak akan memperhatikan sepeninggalku, kecuali orang-orang yang bersabar. Semoga Allah memberinya air minum dari mata air Salsabila di Syurga.”
Diantara keistimewaan Abdurrahman bin Auf, bahwa ia berfatwa tatkala Rasulullah masih hidup. Rasulullah juga pernah shalat di belakangnya pada waktu perang tabuk. Ini merupakan keutamaan yang tidak dimiliki orang lain. Abdurrahman bin Auf, juga termasuk salah seorang sahabat yang mendapatkan perhatian khusus dari Rasulullah. Terbukti tatkala terjadi suatu masalah antara dia dan Khalid bin Walid, maka Rasulullah bersabda, ”Wahai Khalid, janganlah engkau menyakiti salah seorang dari Ahli Badar (yang mengikuti perang Badr). Seandainya engkau berinfak dengan emas sebesar gunung Uhud, maka tidak akan bisa menyamai amalannya.”


Disamping memiliki sifat yang pemurah dan dermawan, ia juga sahabat yang faqih dalam masalah agama. Ibnu Abbas mengatakan bahwa suatu ketika ia sedang duduk bersama Umar bin Khattab, lalu Umar berkata, ‘Apakah engkau pernah mendengar hadits dari Rasulullah yang memerintahkan seseorang apabila lupa dalam shalatnya, lalu apa yang harus dia perbuat?’ Aku menjawab, ‘Demi Allah, tidak pernah wahai Amirul Mukminin. Apakah engkau pernah mendengarnya?’ Dia menjawab, ‘Tidak pernah, demi Allah.’ Di tengah perbincangan itu datanglah Abdurrahman bin Auf, lalu berkata, ‘Apa yang sedang kalian lakukan?’ Umar menjawab, ‘Aku bertanya kepada Ibnu Abbas,’ kemudian Umar menyebutkan pertanyaannya. Abdurrahman berkata, ‘aku pernah mendengar tentang hal itu dari Rasulullah.’ ‘Apa yang engkau dengar wahai Abdurrahman?’ Tanya Umar, lalu Abdurrahman menjawab, “Aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘apabila salah seorang diantara kalian lupa dalam shalatnya, sehingga tidak tahu apakah ia menambah atau mengurangi?, jika ragu satu atau dua raka’at, maka jadikanlah satu raka’at, lalu apabila ia ragu dua atau tiga raka’at, maka jadikanlah dua raka’at, kemudian apabila ia ragu tiga atau empat raka’at, maka jadikanlah tiga raka’at, sehingga keraguannya di dalam menambah, kemudian sujud dua kali disaat duduk sebelum salam, kemudian salam’.”
Hijrah Bersama Rasul
Abdurrahman memeluk agama Islam sebelum Rasulullah SAW menjadikan rumah al-Arqam sebagai pusat dakwah.Ia mendapatkan hidayah dari Allah SWT dua hari sesudah Abu Bakar al-Shiddiq masuk Islam. Seperti orang-orang yang pertama masuk islam lainnya, Abdurrahman pun tidak luput dari penyiksaan dan tekanan kaum kafir Quraisy. Namun hal tersebut tidak membuatnya bergeming sedikitpun, sekalipun maut akan menjemputnya. Ia tetap sadar dan konsisten membenarkan dan mengikuti risalah yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Lantaran konsistennya dalam menegakkan panji-panji Islam dan menjadi pengikut setia Rasulullah, kemudian ia menjadi salah seorang pelopor bagi orang-orang yang hijrah untuk Allah dan Rasulnya.
Abdurrahman turut hijrah ke Habasyah (Ethiopia) bersama kawan-kawan seiman untuk menyelamatkan diri dari tekanan kaum Quraisy yang tak henti-hentinya meneror mereka. Tatkala Rasulullah SAW dan para sahabat hendak melakukan hijrah ke Madinah, Abdurrahman termasuk orang yang menjadi pelopor kaum Muslimin untuk mengikuti ajakan Nabi yang mulia ini. Di kota Madinah, Rasulullah SAW banyak mempersaudarakan kaum Muhajirin dan kaum Anshor. Di antaranya Abdurrahman yang dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi' al-Anshory RA.
Seperti layaknya para Muhajirin lainnya yang meninggalkan kota Mekkah, Abdurrahman bin Auf di samping meninggalkan kota kelahirannya Mekkah, ia pun meninggalkan seluruh harta yang dimilikinya sehingga setibanya di Madinah beliau tidak memiliki apapun harta dan bahkan beliau tidak memiliki isteri. Diriwayatkan dari Anas bin Malik, sesungguhnya Abdurrahman bin Auf telah dipersaudarakan oleh Nabi SAW dengan Sa'ad bin al-Rabi' al-Ansari tatkala tiba di Madinah. Lalu Sa'ad berkata kepadanya, “Saudaraku, Saya adalah salah seorang penduduk Madinah yang punya banyak harta, pilihlah dan ambillah! Saya juga mempunya dua orang isteri, lihatlah salah satunya! Manakah yang menarik hatimu sehingga saya bisa mentalaknya untukmu.” Abdurrahman menjawab, “Semoga Allah memberkatimu pada hartamu dan keluargamu, tunjukkanlah di mana letak pasarmu!” Sa'ad bin al-Rabi' al-Ansari pun menunjukan pasar. Lalu ia pun melakukan transaksi jual beli sehingga mendapatkan laba yang banyak dan telah mampu membeli keju dan lemak.
Kemudian tidak lama berselang ia pun sudah dipenuhi oleh wewangian karena telah menikah. Lalu Rasulullah SAW bertanya, "apa gerangan yang terjadi denganmu?", Ia menjawab, "Wahai Rasulullah, aku telah menikah.” Baginda bertanya, “apa maharnya?” Ia menjawab, "emas sebesar biji kurma." Baginda bertanya kembali, "buatlah walimah  walaupun dengan satu ekor kambing!"
Rasulullah SAW sangat jeli melihat keadaan Abdurrahman bin Auf sehingga beliau dipersaudarakan dengan Sa'ad bin al-Rabi' yang merupakan salah seorang penduduk Madinah yang mempunyai banyak harta. Persaudaraan ini membuahkan hasil yang sangat kuat sekali bagi terjalinnya ikatan yang sangat kuat di antara keduanya. Hal ini digambarkan ketika Sa'ad bin al-Rabi' menawarkan setengah kekayaannya untuk dibagi percuma dan istrinya yang dicintai untuk dinikahi oleh Abdurrahman bin Auf. Walaupun Sa'ad bin al-Rabi' menawarkannya didasarkan oleh niat tulus ikhlas, namun Abdurrahman bin Auf bukanlah tipe manusia yang memanfaatkan kesempatan, sehingga beliau pun menolaknya secara halus dengan ungkapan “semoga Allah memberkatimu, keluargamu dan hartamu.”
Abdurrahman bin Auf boleh miskin materi, tapi ia tidak akan pernah menjadi miskin mental. Jangankan meminta, ia pun pantang menerima pemberian orang selain upahnya sendiri. 'Tangan di bawah' sama sekali bukan perilaku mulia. Abdurrahman bukan hanya tahu, melainkan memegang teguh nilai itu. Ia pun memutar otak bagaimana dapat keluar dari kemiskinan tanpa harus menerima pemberian orang lain. Ia hanya minta ditunjukkan jalan ke pasar. Ia pun pergi ke pasar dan mengamatinya secara cermat. Dari pengamatannya ia tahu, pasar itu menempat diatas tanah milik seorang saudagar Yahudi. Para pedagang berjualan di sana dengan menyewa tanah tersebut, sebagaimana para pedagang sekarang menyewa kios di maal.
Kreativitas Abdurrahman pun muncul. Ia minta tolong saudara barunya untuk membeli tanah yang kurang berharga yang terletak di samping tanah pasar itu. Tanah tersebut lalu dipetak-petak secara baik. Siapa pun boleh berjualan di tanah itu tanpa membayar sewa. Bila dari berdagang itu terdapat keuntungan, ia menghimbau mereka untuk memberikan bagi hasil seikhlasnya. Para pedagang gembira dengan tawaran itu karena membebaskan mereka dari biaya sewa tanah. Mereka berbondong-bondong pindah ke pasar baru yang dikembangkan Abdurrahman. Keuntungannya berlipat. Dari keuntungan itu, Abdurahman mendapat bagi hasil. Semua gembira. Tak perlu waktu lama, Abdurrahman keluar dari kemiskinan, bahkan menjadi salah seorang sahabat Rasul yang paling kaya. Kegigihannya dalam berdagang juga seperti yang beliau ungkapkan sendiri, "Aku melihat diriku, seandainya aku mengangkat sebuah batu maka aku mengharapkan mendapatkan emas atau perak."
Sumbangan di Jalan Allah SWT
Laba dari perniagaannya yang semakin meningkat dari ke hari tidaklah menyebabkan beliau menjadi manusia yang pelit dan kikir serta jauh dari jalan Allah. Bahkan beliau tidak segan-segan untuk menyumbangkan hartanya di jalan Allah dan disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa beliau menyumbangkan setengah dari hartanya. Hal ini seperti disebutkan Zuhri bahwa Abdurrahman bin Auf menyumbangkan setengah dari hartanya sebanyak empat ribu dirham pada masa Rasulullah SAW, kemudian beliau menyumbangkan empat ribu dirham, kemudian empat puluh dinar, kemudian lima ratus kuda perang di jalan Allah, kemudian seribu lima ratus tunggangan di jalan Allah. Semua penghasilannya bersumber dari perniagaan.
Kemurahan hatinya untuk menyumbangkan hartanya di jalan tidak hanya berhenti dengan menyumbangkan setengah dari hartanya, bahkan dalam kesempatan lainnya disebutkan bahwa beliau menyumbangkan keseluruhan hartanya. Hal ini seperti diceritakan oleh Ibnu Abbas RA, bahwa tatkala Abdurrahman bin Auf ditimpa oleh sebuah penyakit, maka beliau mewasiatkan sepertiga hartanya. Ketika sembuh, beliau menyumbangkan sendiri dengan tangannya, kemudian berkata, “Wahai Sahabat Rasulullah SAW, saya akan memberikan sebanyak empat ratus dinar ke atas semua pasukan Badar, lalu Utsman dan beberapa orang lainnya datang menemuinya, lalu orang-orang bertanya kepadanya, “Wahai Abu Umar, bukankah anda orang kaya?” Ia berkata, “ini adalah hadiah dari Abdurrahman, bukan sedekah, dan ia termasuk harta yang halal.” Maka ia menyumbangkan sebanyak seratus lima puluh ribu dinar kepada mereka. Saat menjelang malam, beliau duduk sendiri di rumahnya, lalu menuliskan sebuah memo untuk dibagikan semua hartanya kepada para Muhajirin dan Anshar, bahkan beliau menulis bajunya yang dipakainya dalam memo tersebut, dan tidak ada satupun yang disisakannya kecuali dibagikan semuanya kepada kaum fakir.
Ketika menunaikan shalat shubuh di belakang Rasulullah SAW, turunlah Jibril dan berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah berfirman kepadamu, ‘Kirimkanlah salam-Ku buat Abdurrahman dan terimalah semua memonya, kemudian kembalikanlah semuanya kepadanya dan katakan kepadanya bahwa Allah telah menerima sedekahnya dan ia adalah wakil Allah dan wakil Rasul-Nya, maka kembangkanlah hartanya sesuai dengan kemauannya serta kelolalah hartanya sebagaimana yang telah dilakukan sebelumnya dan ia tidak akan dimintai pertanggung jawaban dan beritahukanlah kabar gembira untuknya!’”
Disamping menyumbangkan hartanya untuk fakir miskin dan orang-orang tertentu, beliau juga diceritakan merupakan orang yang paling banyak memerdekan hamba. Dalam sebuah riwayat Ja'far bin Burqan berkata, “Saya pernah mendengar bahwa Abdurrahman bin Auf telah memerdekakan hamba sebanyak tiga puluh ribu jiwa.” Abu Amr berkata, “Dalam satu riwayat disebutkan bahwa beliau memerdekakan sebanyak tiga puluh hamba dalam satu hari.”

Keutamaan Abdurrahman bin Auf

Keislaman Abdurrahman bin Auf sejak dini menjadikan beliau sebagai pribadi yang paling pertama menghadapi kerasnya penentangan dari penduduk Quraisy Mekkah, sehingga akhirnya beliau dan beberapa Sahabat lainnya diizinkan oleh Nabi SAW berhijrah ke Habsyah pada gelombang pertama. Menurut para ulama, pemilihan kota Habsyah (Ethiopia) sebagai tujuan hijrah pada masa itu disebabkan Habsyah adalah merupakan sebuah negara yang tidak mempunyai ikatan diplomasi dengan negara-negara Arab sehingga dalam hukum international di era modern disebutkan bahwa negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik maka tidak boleh melakukan ektradisi terhadap orang yang berlindung di dalam negaranya. Dan ini merupakan pemilihan yang sangat tepat dari Rasulullah SAW dan diceritakan bahwa ketika utusan Quraisy membujuk Najasyi agar mengusir para muhajirin dari bumi Habsyah, beliau berkata bahwa saya tidak akan melakukan kecuali setelah mengetahui alasan dari pribadi tersebut. Dan ternyata setelah mendengarkan penjelasan dari Ja'far bin Abi Thalib, Najasyi mengembalikan semua hadiah yang diberikan oleh utusan Quraisy dan mengusir keduanya serta menjamin keamanan seluruh kaum muslimin di negaranya.
Tidak mengherankan akhirnya beliau merupakan salah satu di antara para shahabat yang mendapatkan beberapa keistimewaan, di antaranya:
1. Menjadi Imam Shalat Nabi SAW
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa dalam satu peperangan Nabi SAW menjadi makmum Abdurrahman bin Auf. Dalam cerita panjang lebar Amr bin Wahab mengatakan bahwa al-Mughirah bin Syu'bah menyebutkan bahwa menjelang shubuh hari Nabi mengajak al-Mughirah untuk menemaninya membuang hajat. Setelah buang hajat Nabi SAW memintanya untuk mengambalikan air wudhu', namun ternyata mereka sudah terlambat karena rombongan sedang menunaikan shalat yang diimami oleh Abdurrahman bin Auf. Ketika itu ia mencoba untuk menghentikan shalat jemaah tersebut dengan kembali mengumandangkan azan, namun Nabi SAW melarangnya sehingga Nabi SAW menjadi makmun kepada Abdurrahman bin Auf. Dalam satu hadits lainnya diriwayatkan oleh al-Mughirah, “Nabi tidak meninggal sehingga menjadi makmum orang shalih dari ummatnya.”
2. Calon Penghuni Syurga
Beliau merupakan salah seorang shahabat Nabi SAW yang dijamin masuk syurga Diriwayatkan dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Sa'id bin Zayd berkata: Rasulullah SAW berkata: sepuluh orang yang dijamin masuk syurga: Abu Bakar, Umar, Ali, Utsman, Zubair, Thalhah, Abdurrahman bin Auf, Abu Ubaidah bin al-Jarrah dan Sa'ad bin Abi Waqqas. Beliau berkata: beliau telah menyebutkan satu persatu dari yang sembilan orang dan kemudian berhenti sejenak pada bilang yang kesepuluh. Maka orang bertanya-tanya: kami memohon kepadamu atas nama Allah siapakah orang yang kesepuluh? Beliau menjawab: kalian meminta keseriusan saya atas nama Allah, (orang yang yang kesepuluh adalah) Abu al-A'war (kinayah terhadap Sa'id bin Zaid).

3. Kecintaan Nabi SAW terhadap Abdurrahman bin Auf RA

Ummu Salamah RA menceritakan bahwa Nabi SAW bersabda, "Sesungguhnya yang akan menjaga kamu sekalian sepeninggalku adalah al-Shadiq al-Bar (Abdurrahman bin Auf). Ya Allah, hidangkanlah minuman mata air syurga kepada Abdurrahman bin Auf.” Nabi SAW juga bersabda, "Engkau adalah orang kepercayaan penduduk bumi dan engkau juga orang kepercayaan penduduk langit.”
4. Ayat al-Quran yang memujinya
Al-Quran memuji keutamaannya, di antaranya seperti yang diriwayatkan dari Sa’ib tentang firman Allah SWT (al-Baqarah: 267) yang diturunkan untuk Utsman dan Abdurrahman bin Auf. Adapun tentang Abdurrahman bin Auf diceritakan bahwa ia menyumbangkan empat ribu dirham kepada Nabi SAW, lalu ia berkata, “Sebenarnya saya punya delapan ribu dirham, saya tinggalkan empat ribu dirham untuk diri sendiri dan keluarga. Sedangkan empat ribu dirham saya sumbangkan di jalan Allah. Kemudian Nabi SAW bersabda, “Semoga Allah memberkati apa yang telah engkau tinggalkan dan apa yang telah engkau sumbangkan.”
5. Salam dan berita masuk syurga dari Allah SWT
Ibnu Abbas RA mengatakan bahwa ketika kafilah dagang Abdurrahman bin Auf kembali dari Syam dan langsung dibawa kepada Nabi SAW, lalu Nabi SAW berdoa untuknya agar dimasukkan Syurga, maka turunlah Jibril dan berkata, “Sesungguhnya Allah mengirimkan salam untukmu dan berfirman, ‘Kirimkanlah salam-Ku kepada Abdurrahman bin Auf dan sampaikan kabar gembira Syurga untuknya’.”

6. Penghargaan Nabi SAW


Abu Umar dan beberapa orang lainnya berkata, “Abdurrahman bin Auf ikut serta dalam perang Badar dan semua peperangan lainnya. Beliau tetap setia membentengi Nabi Muhammad SAW pada perang Uhud. Beliau pun salah seorang dari sepuluh Sahabat Nabi SAW yang dijamin masuk Syurga, juga salah seorang dari delapan orang yang terdahulu masuk Syurga, salah seorang dari enam orang anggota Syurga yang disaksikan oleh Umar tentang keridoan Rasulullah SAW terhadap mereka, salah seorang dari lima orang yang masuk Islam dalam tangan Abu Bakar.
Rasulullah SAW pernah mengutusnya ke Dumah al-Jandal, memakaikan surban dan menyalipnya pada kedua bahunya lalu berkata kepadanya, “Pergilah dengan mengucapkan bismillah!” dan mewasiatkan kepadanya beberapa hal dan Nabi SAW berkata kepadanya, “Jika Allah memberimu kemenangan, maka kawinilah anak perempuan dari pemimpin atau raja mereka!” sedangkan pemimpin mereka adalah al-Asbagh bin Tsa'labah al-Kalibi, lalu ia pun menikahi anak perempuan Tamadhur dan ia adalah ibu dari anak Abi Salamah.
7. Kepercayaan Nabi SAW terhadap kekuatan imannya
Ubaidillah bin Abdullah bin 'Utbah bin Mas'ud mengatakan bahwa Rasulullah SAW memberikan sesuatu kepada khalayak ramai dan tidak memberikan apapun kepada Abdurrahman bin Auf, sedangkan ia berada dalam khalayak tersebut, lalu Abdurrahman bin Auf keluar dari barisan tersebut dalam keadaan menangis, maka Umar bin Khattab melihat dan berkata, “Apa yang membuatmu menangis?” Ia menjawab, “Rasulullah SAW memberikan sesuatu kepada orang ramai padahal saya ada di tengah orang-orang tersebut, maka aku takut Rasulullah SAW tidak memberikan sesuatu kepadaku disebabkan oleh hal yang tidak disukai dariku.” Lalu Umar masuk menemui Nabi SAW dan menceritakan peristiwa yang dialami oleh Abdurrahman bin Auf. Kemudian Rasulullah SAW berkata, “Aku tidak marah kepadanya, akan tetapi aku telah menyerahkannya pada keimanannya.”
8. Orang yang sudah bahagia dalam perut ibunya
Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf mengatakan bahwa ketika Abdurrahman bin Auf terlelap sebentar, lalu bangun kembali, beliau lalu bercerita, “Sesungguhnya telah datang kepadaku dua Malaikat yang tampak menakutkan, lalu keduanya berkata, ‘Ikutlah bersama kami untuk diadukan kepada Allah!’ Lalu keduanya dijumpai oleh satu Malaikat, lalu ia berkata, ‘Mau dibawa kemana lelaki itu?’ Keduanya menjawab, ‘Kami mau mengadukannya kepada Allah.’ Ia berkata, ‘Lepaskanlah ia karena sesungguhnya ia telah dituliskan sebagai lelaki bahagia semenjak dalam kandungan ibunya’.”
9. Keilmuannya
Ibnu Abbas RA berkata bahwa disaat Umar RA menuju ke Syam, lalu ketika sampai di Sara' beliau dikabarkan bahwa Syam sedang dilanda oleh penyakit waba' (penyakit menular), maka beliau mengumpulkan semua shahabat Rasulullah SAW dan meminta pendapat, sehingga munculah berbagai pendapat, namun beliau menyetujui pendapat untuk kembali (agar tidak meneruskan perjalanan). Tiba-tiba muncullah Abdurrahman bin Auf yang telah menghilang beberapa saat karena buang hajat, lalu berkata, “Sesungguhnya saya sangat mengerti masalah ini, karena aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Apabila terjadi penyakit menular di suatu tempat, maka janganlah kamu masuk ke dalamnya! Sedangkan apabila terjadi di suatu tempat sedangkan kamu berada di dalamnya, maka janganlah kamu keluar darinya untuk lari dari penyakit tersebut’.”
10. Rujukan Umar
Anas RA menceritakan bahwa peminum khamar di zaman Nabi SAW dijatuhi hukuman jilid dengan pelepah kurma dan sandal sebanyak empat puluh kali. Demikian juga Abu Bakar ash-Shiddiq RA. Lalu Anas RA menceritakan bahwa ketika Umar RA diangkat menjadi Khalifah, beliau berkata, “Sesungguhnya orang kampung telah datang ke kota, apa pendapat kalian tentang hukum peminum khamar?” Maka Abdurrahman bin Auf berkata, “Kita menetapkan hukumannya di bawah hukuman hudud.” Maka Umar pun menetapkan hukuman sebanyak delapan puluh kali jilid.
11. Ketawadhuannya
Walaupun beliau merupakan sosok Sahabat Nabi SAW yang telah dijanjikan masuk Syurga, namun jaminan tersebut tidak menyebabkan beliau lupa diri. Sa'id bin Jubair berkata, “Abdurrahman bin Auf tidak dapat dibedakan dari hamba sahayanya.”
Wafat
Abdurrahman bin Auf meninggal dunia pada tahun 31 H. Menurut pendapat lain disebutkan pada tahun 32 H ketika berusia 75 tahun. Dalam pendapat lain disebutkan berumur 72 tahun. Beliau dimakamkan di pemakaman Baqi' yang diimami oleh Utsman RA berdasarkan wasiatnya. Diriwayatkan oleh Ibnu al-Najjar di dalam kitab Akhbar al-Madinah dengan sanadnya dari Abdurrahman bn Humaid dari Bapaknya, ia berkata, “Ketika ajal hendak menjemput Abdurrahman bin ‘Auf, Aisyah mengirimkan seseorang kepadanya supaya dikuburkan di sisi Rasulullah SAW dan kedua saudaranya, maka ia menjawab, “Saya tidak mau menyempitkan ruang rumah anda karena saya sungguh telah berjanji kepada Ibnu Maz'un, ‘Siapa saja diantara kami yang meninggal, maka ia akan dikuburkan di sisi sahabatnya’.” Dengan demikian makam Utsman bin Maz'un dan Abdurrahman bin Auf berada di sisi qubbah Ibrahim bin Nabi Muhammad SAW.
Harta Warisan
Abdurrahman bin Auf meninggalkan dua puluh delapan anak lelaki dan delapan anak perempuan. Hal yang sangat menarik sekali bahwa walaupun sudah menyumbangkan hampir keseluruhan hartanya di jalan Allah SWT, namun beliau masih meninggalkan harta warisan yang sangat banyak sekali. Dalam sebuah riwayat dari Muhammad, beliau menceritakan bahwa diantara harta peninggalan Abdurrahman bin Auf adalah emas murni, sehingga tangan para tukang emas merasa kewalahan (lecet) untuk membagikannnya. Empat orang isterinya masing-masing menerima harta warisan sebanyak delapan puluh ribu dinar.
Abu Amr berkata, “Beliau adalah seorang pedagang sukses dalam bidang perniagaan, sehingga mendapatkan laba yang sangat banyak dan meninggalkan sebanyak seribu unta, tiga ratus kambing, seratus kuda perang yang digembalakan di daerah Naqi' dan mempunyai lahan pertanian sehingga kebutuhan keluarganya setahun dipasok dari hasil tanaman tersebut.”
Sumber: http://kisahrasulnabisahabat.blogspot.com/2012/04/abdurrahman-bin-auf-ra-biografi.html