Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Senin, 09 Desember 2013

Imam Malik



Biografi Imam Malik bin Anas
Imam Malik bin Anas merupakan pakar hadits dan fiqih, sekaligus termasuk salah satu pendiri madzhab, yakni Madzhab Maliki. Beliau terkenal pula dengan kitabnya yang bernama al-Muwaththa'.

Beliau adalah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir bin Amr bin al-Harits bin Ghailan bin Hasyat bin Amr bin Harits, al-Ashbuhi; nisbah yang di tujukan kepada dzi-ashbuh dari Humair, al-Madani; nisbah kepada Madinah, negeri tempat beliau tinggal. Kunyah atau julukan beliau adalah Abu Abdillah.
Beliau berasal dari keluarga Arab yang terhormat dan berstatus sosial tinggi, baik sebelum datangnya Islam maupun sesudahnya. Tanah asal leluhurnya adalah Yaman, namun setelah nenek moyangnya menganut Islam mereka pindah ke Madinah. Kakeknya Abu Amir adalah anggota keluarga pertama yang memeluk agama Islam pada tahun ke dua Hijriah.
Kakek dan ayahnya termasuk ulama hadits terpandang di Madinah. Oleh sebab itu, sejak kecil Imam Malik tak berniat meninggalkan Madinah untuk mencari ilmu, karena beliau merasa Madinah adalah kota sumber ilmu yang berlimpah dengan ulama-ulama besarnya. Imam Malik menekuni pelajaran hadits kepada ayah dan paman-pamannya, juga pernah berguru kepada ulama-ulama terkenal seperti Nafi’ bin Abi Nu’aim, Ibnu Syihab az-Zuhri, Abu Zinad, Hasyim bin Urwa, Yahya bin Said al-Anshari, Muhammad bin Munkadir, Abdurrahman bin Hurmuz dan Imam Ja’far as-Shadiq.


Tanggal lahir:

Mengenai tahun kelahiranya, terdapat perbedaaan riwayat. Al-Yafii dalam kitabnya Thabaqat fuqoha meriwayatkan bahwa Imam Malik dilahirkan pada 94 H. Ibn Khalikan dan yang lain berpendapat bahwa Imam Malik dilahirkan pada 95 H. Sedangkan Imam al-Dzahabi meriwayatkan Imam Malik dilahirkan 90 H. Imam Yahya bin Bakir meriwayatkan bahwa ia mendengar Malik berkata, “Aku dilahirkan pada 93 H.” Dan inilah riwayat yang paling benar (menurut al-Sam'ani dan ibn Farhun).Wafatnya beliau di Madinah tahun 93 H bertepatan dengan tahun meninggalnya sahabat yang mulia Anas bin Malik. Ibunya mengandung beliau selama tiga tahun.

Sifat-sifat Imam Malik:

Beliau adalah sosok yang tinggi besar, bermata biru, botak, berjenggot lebat, rambut dan jenggotnya putih, tidak memakai semir rambut dan beliau menipiskan kumisnya. Beliau senang mengenakan pakaian bersih, tipis dan putih, sebagaimana beliau pun sering bergonta-ganti pakaian. Memakai serban dan meletakkan bagian sorban yang berlebih di bawah dagunya.

Aktifitas beliau dalam menimba ilmu

Imam Malik tumbuh di tengah-tengah ilmu pengetahuan, hidup di lingkungan keluarga yang mencintai ilmu, di Kota Darul Hijrah, sumber mata air as-Sunah dan kota rujukan para alim ulama. Di usia yang masih sangat belia, beliau telah menghapal Alqur`an, menghapal Sunah Rasulullah SAW, menghadiri majlis para ulama dan berguru kepada salah seorang ulama besar pada masanya, yakni Abdurrahman Bin Hurmuz.

Perjalanan hidup beliau

Meskipun Imam Malik memiliki kelebihan dalam hafalan dan kekuatan pengetahuannya, akan tetapi beliau tidak mengadakan rihlah ilmiah dalam rangka mencari hadits, karena beliau beranggapan cukup dengan ilmu yang ada di sekitar Hijaz. Meski beliau tidak pernah mengadakan perjalanan ilmiah, tetapi beliau telah menyandang gelar seorang ulama, yang dapat memberikan fatwa dalam permasalahan ummat. Beliau pun membentuk suatu majelis di Masjid Nabawi pada saat beliau menginjak dua puluh satu tahun. Pada saat itu, guru beliau Imam Nafi’, masih hidup. Semua itu agar beliau dapat mentransfer pengetahuannya kepada kaum muslimin serta kaum muslimin dapat mengambil manfaat dari pelajaran yang disampaikan Sang Imam.
Kecintaannya terhadap ilmu menjadikan hampir seluruh hidupnya diabdikan dalam dunia pendidikan, tidak kurang dari empat Khalifah, mulai dari Khalifah al-Mansur, Khalifah al-Mahdi, Khalifah Harun ar-Rasyid dan Khalifah al-Makmun pernah jadi muridnya. Bahkan ulama-ulama besar seperti Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i pun pernah menimba ilmu darinya. Menurut sebuah riwayat, disebutkan bahwa murid Imam Malik yang terkenal mencapai 1.300 orang. Ciri pengajaran Imam malik adalah disiplin, ketentraman dan rasa hormat murid terhadap gurunya.
Karya Imam Malik terbesar adalah bukunya yang berjudul al-Muwaththa’, yaitu kitab fiqih yang berisi himpunan hadits-hadits pilihan. Menurut beberapa riwayat mengatakan, bahwa buku al-Muwatha’ tersebut tidak akan ada bila Imam Malik tidak dipaksa oleh Khalifah al-Mansur sebagai sangsi atas penolakannya untuk datang ke Baghdad. Dan sangsinya yaitu mengumpulkan hadits-hadits dan membukukannya. Awalnya Imam Malik enggan untuk melakukannya, namun setelah dipikir-pikir tak ada salahnya melakukan hal tersebut. Akhirnya lahirlah al-Muwaththa’ yang ditulis pada masa Khalifah al-Mansur (754-775 M) dan selesai di masa Khalifah al-Mahdi (775-785 M). Semula kitab ini memuat 10 ribu hadits, namun setelah diteliti ulang, Imam Malik hanya memasukkan 1.720 hadits.
Ia menyusun kitab al-Muwaththa' dengan menghabiskan waktu 40 tahun. Selama waktu itu, ia menunjukannya kepada 70 ahli fiqih Madinah. Kitab tersebut menghimpun 100.000 hadits dan yang meriwayatkan al-Muwaththa’ lebih dari seribu orang. Karena itu, naskahnya berbeda-beda dan seluruhnya berjumlah 30 naskah, tetapi yang terkenal hanya 20 naskah. Yang paling masyhur adalah riwayat dari Yahya bin Yahya al-Laitsi al-Andalusi al-Mashmudi.
Sejumlah ulama berpendapat, bahwa sumber-sumber hadits itu ada tujuh, yaitu al-Kutub as-Sittah ditambah Al Muwaththa’. Ada pula ulama yang menetapkan Sunan ad-Darimi sebagai ganti al-Muwaththa’. Ketika melukiskan kitab besar ini, Ibn Hazm berkata, "Al-Muwaththa’ adalah kitab tentang fiqih dan hadits dan aku belum menemukan bandingannya."
Hadits-hadits yang terdapat dalam al-Muwaththa’ tidak semuanya Musnad. Sebagiannya ada yang mursal, mu’dlal dan munqathi’. Sebagian Ulama menghitungnya berjumlah 600 hadits musnad, 222 hadits mursal, 613 hadits mauquf, 285 perkataan tabi’in. Disamping itu ada 61 hadits tanpa penyandaran, hanya dikatakan, "telah sampai kepadaku” dan “dari orang kepercayaan”, tetapi hadits-hadits tersebut bersanad dari jalur-jalur lain yang bukan jalur dari Imam Malik sendiri, karena itu Ibn Abdil Barr an-Namiri menentang penyusunan kitab yang berusaha me-muttashil-kan hadits-hadits mursal, munqathi’ dan mu’dhal yang terdapat dalam al-Muwaththa’ Imam Malik.


Guru-guru beliau

Imam Malik menerima hadits dari 900 guru, 300 dari golongan Tabi’in dan 600 dari atba’ut-tabi’in. Ia meriwayatkan hadits bersumber dari Nu’main al-Mujmir, Zaib bin Aslam, Nafi’, Syarik bin Abdullah, az-Zuhry, Abi az-Ziyad, Sa’id al-Maqburi dan Humaid ath-Thawil. Muridnya yang paling akhir adalah Hudzafah as-Sahmi al-Anshari. Adapun yang meriwayatkan darinya adalah banyak sekali, diantaranya ada yang lebih tua darinya seperti az-Zuhry dan Yahya bin Sa’id. Ada yang sebaya seperti al-Auza’i, Sufyan ats-Tsauri, Sufyan bin Uyainah, al-Laits bin Sa’ad, Ibnu Juraij dan Syu’bah bin Hajjaj. Adapula yang belajar darinya seperti Asy-Safi’i, Ibnu Wahb, Ibnu Mahdi, al-Qaththan dan Abi Ishaq.
Imam Malik berjumpa dengan sekelompok kalangan tabi’in yang telah menimba ilmu dari para sahabat Rasulullah SAW. Yang paling menonjol dari mereka adalah Imam Nafi’, mantan budak Abdullah bin ‘Umar. Malik berkata; “Nafi’ telah menyebarkan ilmu yang banyak dari Ibnu ‘Umar, lebih banyak dari apa yang telah disebarkan oleh anak-anak Ibnu Umar.”
Guru-guru imam Malik, selain Nafi’, yang telah beliau riwayatkan haditsnya adalah:
  1. Abu az-Zanad Abdullah bin Zakwan
  2. Hisyam bin ‘Urwah bin az-Zubair
  3. Yahya bin Sa’id al-Anshari
  4. Abdullah bin Dinar
  5. Zaid bin Aslam, mantan budak Umar
  6. Muhammad bin Muslim bin Syihab az-Zuhri
  7. Abdullah bin Abi Bakar bin Hazm
  8. Sa’id bin Abi Sa’id al-Maqburi
  9. Sami mantan budak Abu Bakar
Murid-murid beliau

Banyak sekali para penuntut ilmu meriwayatkan hadits dari imam Malik ketika beliau masih muda belia. Di sini kita kategorikan beberapa kelompok yang meriwayatkan hadits dari beliau, diantaranya:

Guru-guru beliau yang meriwayatkan dari imam Malik, diantaranya;
  1. Muhammad bin Muslim bin Syihab az-Zahrani
  2. Yahya bin Sa’id al-Anshari
  3. Paman beliau, Abu Sahl Nafi’ bin Malik
Dari kalangan teman sejawat beliau adalah;
  1. Ma’mar bin Rasyid
  2. Abdul Malik bin Juraij
  3. Imam Abu Hanifah, An Nu’man bin Tsabit
  4. Syu’bah bin al-Hajjaj
  5. Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri
  6. Al-Laits bin Sa’d
Orang-orang yang meriwayatkan dari imam Malik setelah mereka adalah;
  1. Yahya Bin Sa’id al-Qaththan
  2. Abdullah bin al-Mubarak
  3. Abdurrahman bin Mahdi
  4. Waki’ bin al-Jarrah
  5. Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i.
Sedangkan yang meriwayatkan al-Muwaththa` banyak sekali, diantaranya;
  1. Abdullah bin Yusuf at-Tunisi
  2. Abdullah bin Maslamah al-Qa’nabi
  3. Abdullah bin Wahb al-Mishri
  4. Yahya bin Yahya al-Laitsi
  5. Abu Mush’ab az-Zuhri
Persaksian para ulama terhadap beliau
  1. Imam Malik menerangkan tentang dirinya, “Aku tidak berfatwa sehingga tujuh puluh orang bersaksi bahwa diriku ahli dalam masalah tersebut.”
  2. Sufyan bin ‘Uyainah menuturkan; “Malik merupakan orang alim penduduk Hijaz dan dia merupakan argumen pada masanya.”
  3. Muhammad bin Idris asy-Syafi`i menuturkan, “Malik adalah pengajarku, darinya aku menimba ilmu.” Dan dia juga menuturkan, “Apabila ulama disebutkan, maka Malik adalah bintangnya.”
  4. Muhammad bin Idris asy-syafi`i menuturkan: “Saya tidak mengetahui kitab ilmu yang lebih banyak benarnya dibanding kitab Imam Malik.” Dia pun berkata, “Di atas bumi ini, tidak ada suatu kitab setelah Kitabullah yang lebih sahih dari Kitab Imam Malik”.
  5. Imam as-Syafi'i berkata, "Imam Malik adalah Hujjatullah atas makhluk-Nya setelah para Tabi'in."
  6. Abdurrahman bin Mahdi menuturkan, “Aku tidak akan mengedepankan seseorang dalam masalah shahihnya sebuah hadits dari pada Imam Malik.”
  7. Al-Auza’i apabila menyebut Imam Malik, dia berkata, “Alimul ‘ulama dan mufti haramain.”
  8. Yahya bin Sa’id al-Qaththan menuturkan, “Malik merupakan imam yang patut untuk diteladani.”
  9. Yahya bin Ma’in menuturkan; “Malik merupakan hujjah Allah terhadap makhluk-Nya.”
  10. An-Nasa’i berkata, ”Aku tidak menemukan orang yang pintar, mulia, jujur dan tepercaya periwayatan haditsnya, melebihi Malik. Kami tidak menemukan dia meriwayatkan hadits dari rawi matruk, kecuali Abdul Karim.” (Ket: Abdul Karim bin Abi al-Mukharif al Bashri yang menetap di Makkah, karena tidak tinggal di negeri yang sama dengan Imam Malik, keadaanya tidak banyak diketahui, Malik hanya sedikit men-takhrij-kan haditsnya tentang keutamaan amal atau menambah pada matan).
  11. Sedangkan Ibnu Hayyan berkata, ”Malik adalah orang yang pertama kali menggunakan fiqih, agama dan keutamaan ibadah, untuk menyeleksi para tokoh ahli fiqih di Madinah.”
  12. Yahya bin Ma'in berkata, “Imam Malik adalah Amirul mukminin dalam Ilmu Hadits.”
  13. Ayyub bin Suwaid berkata, “Imam Malik adalah Imam Darul Hijrah (Imam Madinah) dan as-Sunnah, seorang yang Tsiqah, seorang yang dapat dipercaya.”
  14. Ahmad bin Hanbal berkata, “Jika engkau melihat seseorang yang membenci Imam Malik, maka ketahuilah bahwa orang tersebut adalah ahli bid'ah.”
  15. Seseorang bertanya kepada Imam as-Syafi'i, “Apakah anda menemukan seseorang yang ‘alim seperti Imam Malik?” As-Syafi'i menjawab, “Aku mendengar dari orang yang lebih tua dan lebih berilmu dari pada aku, mereka mengatakan kami tidak menemukan orang yang ‘alim seperti Imam Malik, maka bagaimana kami (orang sekarang) dapat menemukan orang yang seperti Malik?”

Hasil karya beliau

Muwaththa merupakan hasil karya Imam Malik yang paling spektakuler. Di sana masih ada beberapa karya beliau yang tersebar, diantaranya:
  1. Risalah fi al-qadar
  2. Risalah fi an-nujum wa manazili al-qamar
  3. Risalah fi al-aqdliyah
  4. Risalah ila Abi Ghassan Muhammad bin Mutharrif
  5. Risalah ila al-Laits bin Sa’d fi ijma’i ahli al-Madinah
  6. Juz`un fi at-Tafsir
  7. Kitabu as-Sirr
  8. Risalah ila ar-Rasyid.
Wafatnya beliau

Imam malik jatuh sakit pada hari Ahad dan menderita sakit selama 22 hari. Kemudian 10 hari setelah itu ia wafat. Sebagian meriwayatkan Imam Malik wafat pada 14 Rabiul Awwal 179 H, namun sebagian lagi ada yang menyebutkan 14 Shafar tahun 179 H. Sahnun meriwayatkan dari Abdullah bin Nafi', “Imam Malik wafat pada usia 87 tahun.” Ibnu Kinanah bin Abi Zubair, putranya Yahya dan sekretarisnya Hubaib yang memandikan jenazah Imam Malik. Beliau dimakamkan di Baqi', Madinah al-Munawwarah.

0 komentar:

Posting Komentar