Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Kamis, 07 November 2013

7. Sa'ad Bin Abi Waqqosh RA


Sa’ad bin Abi Waqqash
Sa’ad lahir dan besar di kota Makkah. Ia dikenal sebagai pemuda yang serius dan memiliki pemikiran yang cerdas. Sosoknya tidak terlalu tinggi namun bertubuh tegap dengan potongan rambut yang pendek. Orang-orang selalu membandingkannya dengan singa muda.
Ia berasal dari keluarga bangsawan yang kaya raya dan sangat disayangi kedua orangtuanya, terutama ibunya. Meski berasal dari Makkah, ia sangat benci pada agama dan cara hidup yang dianuti masyarakatnya. Ia membenci upacara penyembahan berhala yang menjadi budaya di Makkah saat itu.
Suatu hari dia didatangi Abu Bakar yang dikenal sebagai orang yang ramah. Ia mengajak Sa’ad menemui Muhammad SAW di sebuah bukit dekat Makkah. Pertemuan itu amat berkesan dalam jiwa Sa’ad yang ketika itu baru berusia 20 tahun.
Ia pun segera menerima undangan Muhammad SAW untuk menjadi salah seorang penganut ajaran Islam yang dibawanya. Sa’ad kemudian menjadi salah satu sahabat yang pertama masuk Islam.
Sa’ad sendiri secara tidak langsung memiliki hubungan kekerabatan dengan Rasulullah SAW SAW. Ibunda Rasul, Aminah binti Wahhab berasal dari suku yang sama dengan Sa’ad, yakni dari Bani Zuhrah. Karena itu Sa’ad juga sering disebut sebagai Sa’ad dari Zuhrah, untuk membedakannya dengan orang lain yang bernama sama dengan Sa’ad.
Namun keislaman Sa’ad mendapat tentangan keras, terutama dari keluarga dan anggota sukunya. Ibunya bahkan mengancam akan bunuh diri. Selama beberapa hari, ibunda Sa’ad menolak makan dan minum sehingga kurus dan lemah. Meski dibujuk dan dibawakan makanan, namun ibunya tetap menolak dan hanya bersedia makan jika Sa’ad kembali ke agama lamanya. Namun Sa’ad berkata bahwa meski ia memiliki kecintaan luar biasa kepada ibunya, namun kecintaannya pada Allah SWT dan Rasulullah SAW SAW jauh lebih besar.
Mendengar kekerasan hati Sa’ad, sang ibu akhirnya menyerah dan makan kembali. Fakta ini memberikan bukti kekuatan dan keteguhan iman Sa’ad bin Abi Waqqas. Di masa-masa awal sejarah Islam, kaum Muslim menghilangkan diri ke bukit jika hendak menunaikan solat. Kaum Quraisy selalu menghalangi mereka dari beribadah.
Saat tengah solat, sekelompok kaum Quraisy mengganggu dengan saling melemparkan ucapan kasar. Karena kesal dan tidak tahan, Sa’ad bin Abi Waqqas memukul salah seorang orang Quraisy dengan tulang unta sehingga melukainya. Ini menjadi darah pertama yang tumpah akibat konflik antara umat Islam dengan orang kafir. Konflik yang kemudian semakin hebat dan menjadi batu ujian keimanan dan kesabaran umat Islam.
Setelah peristiwa itu, Rasulullah SAW SAW meminta para sahabat agar lebih tenang dan bersabar menghadapi orang Quraisy seperti yang difirmankan Allah SWT dalam surat al-Muzzammil ayat 10. Cukup lama kaum Muslimin menahan diri. Hanya beberapa dekad kemudian, umat Islam diperkenankan melakukan serangan terhadap orang kafir. Sa’ad bin Abi Waqqas menjadi salah satu tonggak pemimpin utamanya.

Sa’ad dijamin Syurga
Pada suatu hari ketika Rasulullah SAW sedang duduk bersama para sahabat, tiba-tiba beliau menatap ke ufuk dan berkata, “Seorang penghuni surga akan muncul.” Ketika para Sahabat RA mencari tahu tentang siapa diantara mereka yang dimaksud Nabi, tiba-tiba Sa’ad muncul.
Abdullah bin ‘Amr menanyakan “rahasia” Sa’ad yang membuatnya mendapat jaminan surga, maka Sa’ad mengatakan, “Ibadah yang aku kerjakan juga dikerjakan yang lain, kecuali aku tidak pernah menaruh dendam atau berniat jahat terhadap kaum muslimin.”
Ia terlibat dalam perang badar bersama saudaranya yang bernama Umair yang kemudian syahid bersama 13 pejuang muslim lainnya. Pada perang Uhud, Sa’ad bersama Zaid terpilih menjadi salah satu pasukan pemanah terbaik Islam. Sa’ad berjuang dengan gigih dalam mempertahankan Rasulullah SAW setelah beberapa pejuang muslim meninggalkan posisi mereka. Sa’ad juga menjadi sahabat dan pejuang Islam pertama yang tertembak panah dalam upaya mempertahankan Islam.
Sa’ad juga merupakan salah satu sahabat yang dikaruniai kekayaan yang banyak dan digunakannya untuk kepentingan dakwah. Ia juga dikenal Karena keberanian dan kedermawanannya. Sa’ad hidup hingga usianya menjelang 80 puluh tahun. Menjelang wafatnya, Sa’ad meminta puteranya untuk mengafaninya dengan jubah yang ia gunakan dalam perang Badar. ''Kafani aku dengan jubah ini Karena aku ingin bertemu Allah SWT dalam pakaian ini,''ujarnya.

Kepahlawan Sa’ad dalam Peperangan Qadisiyyah
Penolakan kaisar Farsi untuk menerima Islam membuat air mata Sa’ad bercucuran. Berat baginya melakukan peperangan yang harus mengorbankan banyak nyawa kaum Muslim dan bukan Muslim.
Kepahlawanan Sa’ad bin Abi Waqqas tertulis dengan tinta emas saat memimpin pasukan Islam melawan tentara Farsi di Qadissyah. Peperangan ini merupakan salah satu peperangan terbesar umat Islam. Bersama tiga ribu pasukannya, ia berangkat menuju Qadasiyyah. Diantara mereka terdapat sembilan veteran perang Badar, lebih dari tiga ratus adalah mereka yang ikut serta dalam ikrar Riffwan di Hudaibiyyah, dan tiga ratus di antaranya adalah mereka yang ikut serta dalam memerdekakan Makkah bersama Rasulullah SAW. Lalu ada tujuh ratus orang putra para sahabat, dan ribuan wanita yang ikut serta sebagai perawat dan tenaga bantuan.
Pasukan ini berkemah di Qadisiyyah berhampiran Hira. Pasukan musuh yang datang untuk menentang pasukan tentera Muslimin berjumlah 120.000 ribu orang dibawah panglima perang kebanggaan mereka, Rustum.
Sebelum memulai peperangan, Sayidina Umar yang menjadi Khalifah saat itu, mengarahkan Sa’ad menulis surat kepada kaisar Farsi, Yazdagird dan Rustum. Isi surat itu mengajak mereka untuk menerima agama Islam. Delegasi Muslim yang pertama berangkat menemui Yazdagird adalah Nu’man bin Muqarrin yang kemudian mendapat penghinaan dan menjadi bahan ejekan Yazdagird.
Untuk mengirim surat kepada Rustum, Sa’ad mengirim delegasi yang dipimpin Rubiy bin Aamir. Rustum menawarkan segala kemewahan duniawi kepada Rubiy bin Aamir sebagai pembalasan dan penghinaan. Namun ia tidak berpaling dari Islam dan menyatakan bahwa Allah SWT menjanjikan kemewahan lebih baik, yaitu Syurga.
Para delegasi Muslim kembali setelah kedua pemimpin itu menolak tawaran masuk Islam. Melihat hal tersebut, air mata Sa’ad bercucuran Karena ia terpaksa harus berperang yang berarti mengorbankan nyawa orang muslim dan bukan muslim.
Setelah itu, untuk beberapa hari ia terbaring sakit Karena tidak kuat menanggung kepedihan jika perang harus terjadi. Sa’ad tahu pasti, bahwa peperangan ini akan menjadi peperangan yang sangat keras yang akan menumpahkan darah dan mengorbankan banyak nyawa.
Ketika tengah berfikir, Sa’ad akhirnya tahu bahwa ia tetap harus berjuang. Karena itu, meskipun terbaring sakit, Sa’ad segera bangkit dan menghadapi pasukannya. Di depan pasukan muslim, Sa’ad membaca surat al-Anbiya ayat 105 tentang bumi yang akan dipusakai oleh orang-orang soleh seperti yang tertulis dalam kitab Zabur.
Setelah itu, Sa’ad menukar pakaian kemudian menunaikan sholat Dzuhur bersama pasukannya. Kemudian dengan membaca takbir, Sa’ad bersama pasukan muslim memulai peperangan. Selama empat hari, peperangan berlangsung tanpa henti dan menimbulkan korban dua ribu Muslim dan sepuluh ribu orang Farsi. Peperangan Qadisiyyah merupakan salah satu peperangan terbesar dalam sejarah dunia. Pasukan Muslim memenangkan peperangan itu.

Dimana Sa’ad bin Waqas dikebumikan?
Menurut catatan resmi dari Dinasti Tang yang berkuasa pada 618-905 M dan berdasarkan catatan serupa dalam buku A Brief Study of the Introduction of Islam to China karya Chen Yuen, Islam pertama kali datang ke China sekitar tahun 30 H atau 651 M.
Disebutkan bahwa Islam masuk ke China melalui utusan yang dikirim oleh Khalifah Ustman bin Affan, yang memerintah selama dua belas tahun atau pada periode 23-35 H/644-656 M. Sementara menurut catatan Lui Tschih, penulis Muslim China pada abad ke 18 dalam karyanya Chee Chea Sheehuzoo (Perihal Kehidupan Nabi), Islam dibawa ke China oleh rombongan yang dipimpin Sa’ad bin Abi Waqqas.
Sebagian catatan lagi menyebutkan, Islam pertama kali datang ke China dibawa oleh panglima besar Islam, Sa’ad bin Abi Waqqas, bersama sahabat lainnya pada tahun 616 M. Catatan tersebut menyebutkan bahwa Sa’ad bin Abi Waqqas dan tiga sahabat lainnya datang ke China dari Abyssinia atau yang sekarang dikenal dengan Ethiopia.
Setelah kunjungan pertamanya, Sa’ad kemudian kembali ke Arab. Ia kembali lagi ke China 21 tahun kemudian atau pada masa pemerintahan Usman bin Affan, dan datang dengan membawa salinan Al-Quran. Usman pada masa kekhalifahannya memang menyalin Al Quran dan menyebarkannya ke berbagai tempat, demi menjaga kemurnian kitab suci ini.
Pada kedatangannya yang kedua di tahun 650, Sa’ad berlayar melalui Samudera Hindia ke Laut China menuju pelabuhan laut di Guangzhou. Kemudian ia berlayar ke Chang'an atau kini dikenal degan nama Xi'an melalui rute yang kemudian dikenal sebagai Jalan Sutera.
Bersama para sahabat, Sa’ad datang dengan membawa hadiah dan diterima dengan baik oleh kaisar Dinasti Tang, Kao-Tsung (650-683). Namun agama Islam tidak langsung diterima oleh sang Kaisar. Setelah melalui proses penyelidikan, sang Kaisar kemudian memberikan izin bagi pengembangan Islam yang dirasanya sesuai dengan ajaran Konfusius.
Namun sang Kaisar merasa bahwa kewajiban sembahyang lima kali sehari dan puasa sebulan penuh terlalu berat baginya hingga akhirnya ia tidak jadi memeluk Islam. Namun begitu ia mengizinkan Sa’ad bin Abi Waqqas dan para sahabat untuk mengajarkan Islam kepada masyarakat di Guangzhou. Orang Cina menyebut Islam sebagai Yi si lan Jiao atau agama yang murni. Sementara Makkah disebut sebagai tempat kelahiran Buddha Ma-hia-wu (atau Rasulullah SAW Muhammad SAW SAW).
Sa’ad bin Abi Waqqas kemudian menetap di Guangzhou dan ia mendirikan Masjid Huaisheng yang menjadi salah satu tonggak sejarah Islam paling berharga di China. Masjid ini menjadi masjid tertua yang ada di daratan Cina dan usianya sudah melebihi 1300 tahun. Ia teletak di jalan Guang Ta Lu. Mesjid ini terus bertahan melewati berbagai monumen sejarah China, bahkan saat ini masih berdiri tegak dan masih seindah dahulu setelah diperbaiki beberapa kali. Baru-baru ini masjid ini diperbaiki lagi, disertai dengan peluasan ruangan sholat setelah sebelumnya pihak pengurus mesjid membeli sedikit tanah di belakang masjid.
Masjid Huaisheng ini kemudian dijadikan Masjid Raya Guangzhou Remember the Sage, atau masjid untuk mengenang Nabi Muhammad SAW. Masjid ini juga dikenal dengan nama Masjid Guang ta, karena masjid dengan menara elok ini yang letaknya di jalan Guangta. Ta berarti menara, karena menurut sejarah menara mesjid ini adalah yang tertinggi pada awal pembangunannya dibanding bangunan lain.
Sebagian lain percaya bahwa Sa’ad bin Abi Waqqas menghabiskan sisa hidupnya dan meninggal di Guangzhou, China. Sebuah pusara diyakini sebagai makamnya. Makamnya pun menjadi  salah satu tempat kunjungan turis dari seluruh penjuru dunia. Bagi seorang muslim yang berkunjung ke Guangzhou, rasanya belum sempurna kalau tidak menginjakan kakinya ke makam Sa’ad.
Namun sebagian lagi menyatakan bahwa Sa’ad meninggal di Baqi’ yang berdekatan dengan Madinah. Ia dimakamkan dikawasan makam para sahabat. Meskipun tidak diketahui secara pasti di mana Sa’ad bin Abi Waqqas meninggal dan dimakamkan, namun yang pasti ia memiliki peranan penting terhadap perkembangan Islam di China.
Kalaupun kubur yang ada di China itu bukan kubur Sa’ad bin Abi Waqas, tetapi pastinya kubur tersebut adalah kubur seorang berbangsa Arab yang memiliki jasa besar dalam perkembangan Islam di China.

1 komentar:

  1. casino, slot machines, blackjack games - drmcd
    We 경상남도 출장마사지 take it easy and easy. The best 창원 출장샵 casino to play with money, your choice. 용인 출장마사지 Here 제주 출장샵 is a quick walkthrough of the casino games you can 안양 출장마사지 play for free.

    BalasHapus