Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Minggu, 10 November 2013

10. Abu Ubaidah Bin al-Jarroh RA

Abu ‘Ubaidah bin al-Jarroh RA

Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah RA lahir di Mekah, dari keluarga suku Quraisy yang terhormat. Keluarganya dari kalangan pedangang Arab. Nama lengkapnya adalah ‘Amir bin Abdullah bin Jarrah yang dijuluki dengan nama Abu ‘Ubaidah. Beliau berperawakan tinggi, kurus, berwibawa, bermuka ceria, rendah diri dan sangat pemalu. Beliau termasuk orang yang berani ketika dalam kesulitan dan disenangi oleh semua orang yang melihatnya. Siapa pun yang mengikutinya akan merasa tenang. Nabi SAW pernah bersabda tentang beliau, “Sesungguhnya setiap umat mempunyai orang kepercayaan, dan kepercayaan umat ini adalah Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah.”

Memeluk Islam
Beliau memeluk Islam selang sehari setelah Sayyidina Abu Bakar as-Shiddiq RA memeluk Islam. Beliau masuk Islam bersama Abdurrahman bin ‘Auf, Utsman bin Maz’un dan Arqam bin Abu al-Arqam, di tangan Abu Bakar as-Shiddiq. Sayyidina Abu Bakarlah yang membawakan mereka menemui Rasulullah SAW untuk menyatakan dua kalimah syahadat di hadapan Baginda SAW.

Kehidupan
Kehidupan beliau tidak jauh berbeda dengan kebanyakan sahabat lainnya, diisi dengan pengorbanan dan perjuangan menegakkan Agama Islam. Hal itu tampak ketika beliau harus hijrah ke Ethiopia pada gelombang kedua demi menyelamatkan aqidahnya. Namun kemudian beliau kembali pulang untuk menyertai perjuangan Rasulullah SAW.
Abu ‘Ubaidah mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah SAW. Beliaulah yang membunuh ayahnya yang berada di pasukan musyrikin dalam perang Badar. Dalam perang Badar, Abu ‘Ubaidah al-Jarrah mencoba menghindari kontak fisik dengan ayahnya yang berada dalam barisan pasukan Quraisy yang menentang Rasulullah SAW, tetapi ayahnya yang bernama Abdulloh telah bersumpah akan membunuh anaknya sendiri karena menjadi pengikut Muhamad SAW. Abdullah terus memburu anaknya hingga akhirnya dalam satu kesempatan pada saat perang Badar bertemulah antara seorang ayah dan seorang anak dalam posisi sebagai pasukan musyrikin dan muslimin. Lalu Abu ‘Ubaidah al-Jarrah terpaksa berhadapan dengan ayahnya sendiri, kemudian Abu ‘Ubaidah al-Jarrah membunuh ayahnya. Beliau merasa sangat sedih sehingga turun ayat Al-Quran surah Al Mujadalah ayat 22.

Sifat Mulia
Ketika dalam peperangan Uhud, tatkala pasukan muslimin kocar kacir dan banyak yang lari meninggalkan medan pertempuran, Abu ‘Ubaidah berlari untuk mendapatkan Nabinya tanpa takut sedikit pun terhadap pihak lawan. Ketika beliau mendapati pipi Nabi SAW terluka karena hujaman dua rantai besi pada penutup kepala Nabi SAW, segera ia berusaha untuk mencabut rantai tersebut dari pipi Nabi SAW. Lalu Abu ‘Ubaidah mulai mencabut rantai tersebut dengan gigitan giginya. Rantai itu pun akhirnya terlepas dari pipi Rasulullah SAW. Namun bersamaan dengan itu pula gigi seri Abu ‘Ubaidah ikut terlepas dari tempatnya. Abu ‘Ubaidah tidak putus asa. Diulanginya sekali lagi untuk mengigit rantai besi satunya yang masih menancap di pipi Rasulullah SAW hingga terlepas. Dan kali ini pun harus juga diikuti dengan lepasnya gigi Abu ‘Ubaidah sehingga dua gigi depan sahabat ini rongak karenanya. Sungguh, satu keberanian dan pengorbanan yang tak ternilai harganya. Dalam riwayat lain Abu ‘Ubaidah mencabut anak panah yang terkena pada rahang Baginda SAW. Rasulullah SAW memberinya gelar “Gagah dan Jujur”. Suatu ketika datang sebuah delegasi dari kaum Kristian menemui Rasulullah SAW. Mereka mengatakan, “Ya Abal Qasim! Kirimkanlah bersama kami seorang sahabatmu yang engkau percayai untuk menyelesaikan perkara kebendaan yang sedang kami selisihkan, karena kaum muslimin di pandangan kami adalah orang yang disenangi.” Rasulullah SAW bersabda kepada mereka, “Datanglah ke sini petang nanti, saya akan kirimkan bersama kamu seorang yang gagah dan jujur.”
Dalam kaitan ini, Sayyidina Umar bin al-Khattab RA mengatakan, “Saya berangkat tergesa-gesa untuk menunaikan solat Dzuhur, sama sekali bukan karena ingin ditunjuk sebagai delegasi. Setelah Rasulullah SAW selesai mengimami solat Dzuhur bersama kami, beliau melihat ke kiri dan ke kanan. Saya sengaja meninggikan kepala saya agar beliau melihat saya, namun beliau masih terus membolak-balikan pandangannya kepada kami. Akhirnya beliau melihat Abu ‘Ubaidah bin Jarrah, lalu beliau memanggilnya sambil berkata, ‘Pergilah bersama mereka, selesaikanlah masalah yang menjadi perselisihan di antara mereka dengan adil.’ Lalu Abu ‘Ubaidah pun berangkat bersama mereka.”
Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya dalam setiap kaum terdapat orang yang jujur. Orang yang jujur di kalangan umatku adalah Abu ‘Ubaidah al-Jarrah.” Dalam hadis yang lain Rasulullah SAW bersabda lagi, “Tiap-tiap umat ada orang yang memegang amanah. Dan pemegang amanah umat ini ialah Abu ‘Ubaidah al-Jarrah.”
Beliau juga seorang yang zuhud, tidak tamak pangkat, jabatan dan harta. Di bawah pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, Abu ‘Ubaidah al-Jarrah dilantik menjadi ketua pasukan tentara Islam untuk menaklukan kota-kota besar yang berada di bawah pemerintahan Romawi seperti Kota Damsyik, Syria, Syam, Kota Aleppo, Kota Hims, Kota Antakiah dan Kota al-Quds di Baitul Maqdis.
Ketika Khalifah Umar bin Khattab berkunjung ke Baitul Maqdis, beliau singgah di Romawiah Abu ‘Ubaidah al-Jarrah. Dilihatnya yang ada dalam Romawiah ketua panglima Islam itu hanyalah pedang, perisai dan pelana kuda saja. Lalu Sayyidina Umar bertanya kepadanya, “Wahai sahabatku, mengapa engkau tidak mengambil sesuatu dari harta rampasan perang sebagaimana orang lain mengambilnya?” Tanya Umar al Khattab. “Wahai ‘Amirul Mu’minin, ini saja sudah cukup bagiku,” jawab Abu ‘Ubaidah al-Jarrah.
Sayyidina Umar bin Khattab melantik Abu ‘Ubaidah al-Jarrah sebagai pemimpin tentara Islam untuk merebut kembali kawasan tanah Arab yang dijajah oleh kerajaan Romawi. Beliau berhasil dalam tugas yang diberikan kepadanya itu sehingga bisa menaklukan Baitul Maqdis.
Sepeninggal Rasulullah SAW, Umar bin Al-Khattab RA mengatakan kepada Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah di hari Tsaqifah, “Ulurkan tanganmu! Agar saya berbai’at kepadamu, karena saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sungguh dalam setiap kaum terdapat orang yang jujur. Orang yang jujur di kalangan umatku adalah Abu ‘Ubaidah.’” Lalu Abu ‘Ubaidah menjawab, “Saya tidak mungkin berani mendahului orang yang dipercayai oleh Rasulullah SAW menjadi imam kita di waktu solat (Sayyidina Abu Bakar as-Shiddiq RA), oleh sebab itu kita patut menjadikannya imam sepeninggal Rasulullah SAW.”

Peperangan Yang Diikuti.
Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah RA ikut serta dalam semua peperangan Islam, bahkan selalu memperoleh kemenangan besar dalam setiap peperangan tersebut. Beliau berangkat membawa pasukan menuju negeri Syam, dengan izin Allah beliau berhasil menaklukan semua negeri tersebut.
Ketika wabah penyakit Tho’un merajarela di negeri Syam, Khalifah Umar bin Al-Khattab RA mengirim surat untuk memanggil kembali Abu ‘Ubaidah. Namun Abu ‘Ubaidah menyatakan keberatannya sesuai dengan isi surat yang dikirimkannya kepada khalifah yang berbunyi, “Hai ‘Amirul Mukminin! Sebenarnya saya tahu kamu memerlukan saya, akan tetapi seperti kamu ketahui saya sedang berada di tengah-tengah tentara Muslimin. Saya tidak ingin menyelamatkan diri sendiri dari musibah yang menimpa mereka dan saya tidak ingin berpisah dari mereka sampai Allah sendiri menetapkan keputusannya terhadap saya dan mereka. Oleh sebab itu, sesampainya surat saya ini, tolonglah bebaskan saya dari rencana baginda dan izinkanlah saya tinggal di sini.” Setelah Umar RA membaca surat itu, beliau menangis, sehingga para hadirin bertanya, “Apakah Abu ‘Ubaidah sudah meninggal?” Umar menjawabnya, “Belum, akan tetapi kematiannya sudah di ambang pintu.”
Menjelang kematian Abu ‘Ubaidah RA, beliau sempat berpesan kepada tentaranya, “Dirikanlah solat, tunaikanlah zakat, puasalah di bulan Ramadhan, berdermalah, tunaikanlah ibadah haji dan umrah, saling nasihat menasihatilah, berilah nasihat kepada pemimpin kamu, jangan menipu, jangan terpesona dengan harta dunia. Sesungguhnya Allah telah menetapkan kematian untuk setiap manusia, karena itu semua manusia pasti akan mati. Orang yang paling beruntung adalah orang yang paling taat kepada Allah dan paling banyak bekalnya untuk akhirat, assalamu ‘alaikum”. Kemudian beliau menoleh kepada Mu’adz bin Jabal RA dan mengatakan, “Ya Mu’adz! Imamilah solat mereka.” Setelah itu, Abu ‘Ubaidah RA pun menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Setelah Abu ‘Ubaidah al-Jarrah meninggal dunia, Mu’adz bin Jabal mengambil alih tempatnya lalu berkata di hadapan orang ramai, “Wahai sekalian kaum Muslimin! Kamu sudah dikejutkan dengan berita kematian seorang pahlawan, yang demi Allah saya tidak menemukan ada orang yang lebih baik hatinya, lebih jauh pandangannya, lebih suka terhadap hari kemudian dan sangat senang memberi nasihat kepada semua orang. Oleh sebab itu kasihanilah beliau, semoga kalian akan dikasihani Allah.”

Meninggal
Abu ‘Ubaidah al-Jarrah meninggal dunia pada tahun 18 Hijrah di Urdun (Yordania) dalam wilayah Syam, karena diserang penyakit tho’un. Jenazahnya dikebumikan di kawasan yang pernah dibebaskannya dari kekuasaan Romawi dan Persia. Ketika itu beliau berusia 58 tahun. Beliau di kebumikan di Urdun (Yordania).
Sumber : Kitab Sirah Rasulullah, 75 gambaran kehidupan sahabat, 10 sahabat yang dijanjikan syurga.

0 komentar:

Posting Komentar